Selasa, 21 Januari 2014

Kata

Anda layaknya guntur
Yang tiba-tiba menyelusup diantara buliran hujan yang runtuh
Gelak lantunan menggelegar menghentakkan nyali
Menghantakkan sanubari senyap
Menyesakkan paru sesaat
Anda membuat hati ini jera
Jera untuk bercinta

Tanya ?

Hey..
Untuk apa saya menulis?
Menuliskan pekatnya malam kah?
Mengalunkan detik jam yang berdetak kah?
Mengukir riuhnya hela nafas yang terhembus?
Untuk apa saya menulis?
Untuk engkau kah kasih?
Isyaratkan meditasi dangkal
Mengikuti laju ujung benda tumpul bertinta merah
Untuk apa saya menulis?
Jika segala tenggelam dalam gempita embun setengah pagi.

Terlalu Bodoh kah Aku?



Terlalu bodoh kah aku?
Saat anak adam berseru meminta tolong
Setelah ku tolong mereka tertawa
Terlalu bodoh kah aku?
Saat aku disuruh mengerjakan pe-er teman ku, aku menyanggupinya dengan senang hati
Selisih beberpa jam ia mengolok-olok ku
Terlalu bodoh kah aku?
Saat ujian aku memberian kertas jawabanku pada teman di depan bangku ku
Dalam rentan waktu yang tidak lama dia mengacuhkan ku seakan sebelumnya tak terjadi apa-apa

Aku

Aku, yang  aku
Wanita miskin tanpa hati
Tiada dapat ku torehkan, secarik kertas putih tetap putih
Bising otakku penuh caci, sampai suara hati tak dengar lagi
Buruknya aku di hadapanmu Tuhan
Inilah aku yang di-aku-aku
Ataukah aku yang ter-aku
Ini celaku
Aku dan keakuanku
Congkak menantang langit
Konyol! ketika kusadari ke-akuanku
Bodohny aku ketika tersungkur
Dan hinanya aku yang tak bisa berdiri atas congkakku
Tuhan
Ini aku dan ke-akuanku
Sekali lagi (lagi, lagi dan lagi..) kabulkan keegoisanku
Untuk tetap berdiri dan tinggi
Tanpa harus tersungkur ataupun mundur
Tanpa harus ku tanggung congkakku
Tanpa harus silau kemilau godaan

Belajar

Jalanan lengang mengerang hebat
Dihadapku
Gulita malam dengan temaram lampu neon
Gantung
Elegi isyaratkan petang
Petang patung dihadapan cermin
Dusta
Buta
Belajar mendusta
Belajar membuta

Secret Ice

Lirih dingin menyapa dara manis dalam khitmadnya pagi, mehantarkan lamunannya melewati nirwana. Membopong seonggok harap untuk nyatanya di kala mentari esok menyambut. Denting mengalunkan elegi dalam raga, hampa.
Dara    :”kapan ya kita bareng-bareng lagi?! Hah! (menghela nafas sendat)”
Melodi angin memutar waktu hingga terik membelai bumi, namun wanita berkerudung ini tetap tak ingin beranjak dari lamunannya, sampai bel tanda tamu dimuka pintu berdering menggugah lamunan yang sungguh membuang waktu.
Brak!!(membuka pintu)
Rista    :”assalamu’alaikum  wr. wb. (seraya tersenyum lembut)”
Dara    :”wa’alaikumsalam wr. wb. mau cari siapa neng?! (senyum)”
Rista    :”nyari bak sampah ada?!”
Dara    :”aduh gak ada lah, emang buat apa?!”
Rista    :”buat buang kamu (sambil menjulurkan lidah, mengejek),hahahaha ”
Dara    :”haha, udah ah yuk masuk! Keburu lumutan diluar (menyambar telapak tangan wanita berparas cantik nan lugu) ”
Percakapan berlanjut dalan ruang semu menjemukan sampai luapan memori masalalu menyeruak dalam riuh suara hati. Mengenang kehidupan dimasa lampau yang memberi bekas indah dalam pandangan hidup sahabat sedari kecil ini.
Sayup suara berat seorang kaum adam terdengar samar mengingat dan kenali suara yang harusnya tak asing ditelinga kedua insan yang ternanap setelah dapat mengingat ketidak asingan suara mengarah mereka.
Willy:”Ra’, Ris!”(sembari melambaikan tangan pada keduanya)
Mata kedua insan ini terbeliak menatap dalam-dalam raut nyentrik didepan batang hidung mereka.
Dara    :”siapa loh!”
Rista    :”iya nih siapa juga ni orang tak di kenal”
Willy:”gitu ya loe berdua, awas yah gue pergi nih!”
Dara    :”pergi aja,weeeek (menjulurkan lidah tanda mengejek)”
Rista    :”eh, jangan gitu kali Ra’, dia juga baru dateng udah suruh pulang aja”
Dara    :”hahaha, (tertawa setan) biarin, salah sendiri pergi lama banget! Sampek nggak inget sama kita-kita”
Willy:”wait, wait, wait, gue inget kok nih buktinya gue ada didepan loe pada”
Rista    :“yaudah terserah loe aja deh”
Willy:”eh gimana, nih gue tambah ganteng kan?! Tambah cekli?! Tambah keren ?!tambah mempesona kan?!”
Dara    :(menyahut dagu laki-laki nyentrikvdan menggeleng-gelengkannya mengamati perubahan)”loe kokjadi kayak, ehem. . . .”
Rista    :“Jadi mirip larva yang kayak di tv itu loh, hahaha”
Willy:”bih, sekongkol loe berdua, huh! Awas ya?!”
Dara    :”hahaha, santai berro”
Rista    :”sudah kalian berdua jangan bercanda, bukan lelucon (bernada garang). Ini cius loh, hahahahaha”
Willy:”hih, ni anak dikira marah tadi, eh malah bercanda, huuu, hahaha”
Dara    :”iya nih, konyol deh nia anak”
Cuap-cuap mengisi indah suasana pertemuan kawan lama, menggeleparkan rindu yang menyesakkan jiwa, sampai lantunan mega menyapa hari indah penuh tawa riang.
Willy:”wah udah sore, nggak terasa ya kalo udah barengankayak gini, hehe”
Rista    :”iya nih, kalo udah sama-sama gini jadi lupa waktu, hahahaha”
Willy:”yaudah kan sekarang udah sore, gue pulang dulu ya, jangan ampe nggak bisa tidur loh gara-gara mikirin gue, nanti gue pulang loe berdua kangen lagi sama gue, haha ”
Dara    :”nggak berubah ya loe, pede tingkat RT”
Rista    :”udah,keburu maghrib loh”
Willy:”udah dulu ya, bye assalamu’alaikum wr. wb.”(melambaikan tangan sraya mengedipkan mata dan tertawa)
Dara    :”Dasar genit loe, hahaha”(berteriak)
***
    Malam bergeming, angin melesapkan embun menggiring lantunan melodi menari indah dibawah temaram sinar bintang menaungi. Melayang alur fikiran wanita berparas legit mengindahkan hari.
Dara    :”kalo gini tenteram sejahtera, indah sentosa,jaya selamanya kalo udah bareng-bareng sahabat kecil”
Ia merebahkan punggung bertulang rusuk tak sempurna melepas lelah dan membawa indah hari ini pergi dari dimensi fana setelah melaksanakan kewajibannya menghadap sang khaliq.
***
Pagi menjelang, atap berembun menantang langit menyambut warna indah makhluk indah-Nya. Dering benda elektronik ajaib menandakan telefon dari seseorang nan jauh disana, menggugah cantiknya koridor mimpi wanita yang terbaring ringan diatas empuk tumpukkan kapas.
Dara    :”halo, assalamu’alaikum ada apa?!”(nada malas)
Willy    :”bangun-bangun (berteriak)! ”
Dara    :”eh, loe wil, kirain ayam jago nglindur nelfon gue, ada apaan ?!”
Willy:”Gue mau ngajakin jalan-jalan pagi, nigue sama Rista udah ada di depan rumah loe”
Dara    :”heh, ni anak kalo ngajak  jalan-jalan nggak bilang dulu sebelumnya, belum siap-siap ni gue”
Rista    :”yaudah lah Ra’, cepet siap-siap gih, lagi pula emang rencananya buat surprise buat loe kok, hehehe”
Dara    :”yaudah, gue siap-siap dulu, jangan ditinggal ya!”
Rista    :”iya, nona jago ngambek”
Dara    :”hehe”
Setelah memencet tombol reject, ia tergopoh-gopoh mempersiapkan diri, berlarian kesana-kemari, bingung menggelayuti.
Ia berjalan kelur rumah.
Dara    :”kenapa nggak bilang dari awal sih, kalo mau jalan, nyebelin deh kalian berdua”
Willy:”haha, waduh tu muka udah kusut aj, udah dong ngambeknya, senyum dong! Gue ajarin deh kalo nggak bisa.” (sambil menarik kedua ujung bibirnya memperihatkan senyum melebar)
Dara dan Rista    :”hahaha, bisa aja”
Dara    :”udah yuk jalan, kebru siang loh”
Rista    :”Capcus cint”
Satu kompi sahabat ini jalan-jalan pagi mengitari jalanan taman pinggir kota, menikmati sambutan sinar mentari menjamah bumi pertiwi.
***
Hari bersilih mereka penuhi dengan gemerlap tawa nan canda istimewa, dengan hari berikutnya, berikutnya. Bernostalgia ditaman pinggir kota. Terik matahari melumerkan es krim di tangan penikmat es krim.
Willy:”hei, jangan lari ya kalian! Awas kalo kenak gue bales loe berdua, hahaha”
Rista    :”nggak bisa, enggak bisa, hahaha”(tertawa setan)
Dara    :”kejar kalo bisa, weeek”(menjulurkan lidah)
Gelak tawa tiga sekawan ini menyusutkan sengatan sinar sang surya menyapa. Berpeluh kesenangan melingkupi raut muda para pemuda-pemudi belia ini.
Rista dan Dara berlari menyeberangi jalan dihadapannya, Brak!!
Suara menggelegar memaksa mereka menoleh ke belakang. Wajah yang awalnya merekahkan senyum, mulai berubah beraut nanar, nampak di kejauhan sahabat kecil yang tabiatnya selalu membuat orang tertawa geli  tergeletak bersimpuh darah di tengah jalan, terserempet mobil. Gelayut rasa gundah mengalun lirih dalam benak kedua gadis ini, dalam perjalanan ke rumah sakit.
Rista    :”Wil, bangun wil, loe nggak papakan?!”(sesekali terisak)
Dara    :”Wil, sadar Wil”(menggoyahkan tubuh laki-laki yang terkulai lemah)
Dokter:”ma’af, kalian tidak boleh masuk”
Tertunduk pilu, sendu dalam pandangan mata kedua sahabat kecil menemani suasana hening menghentakkan nadi.
Setelah beberapa saat
Suara pintu terbuka, disambut kedua gadis yang menitikan air mata.
Rista    :”Dokter, gimana temen saya?!”
Dokter :(hanya menggelengkan kepala)”saya sudah berusaha semampu saya”
Tanpa pikir panjang mereka masuk dalam ruang beraroma obat mengikat paru. Terpaku melihat seorang insan tergeletak diatas ranjang empuk, diselimuti sampai diatas kepala.
Dara    :”Wil, gue nggak percaya loe udah pergi, loe nggak boleh ninggalin kita Wil”(isakkan tangis menghisai)
Rista    :”sabar Ra’! mungkin udah waktunya, kita nggak bisa apa-apa sekarang, percuma”(derai air mata memenuhi ruangan penuh senyap)
Willy:”ciluk baaa!! Hahahaha, eh sumpah lucu loe berdua kalo lgi nangis gini, bentar-bentar gue ambil foto dulu ya”
Rista    :”loe nggak jadi mati?! Sumpah bikin gue jantungan Wil”
Willy:”hehe, gue sih nggakpapa cuma lecet dikit kok, tadi gue minta tolong sama dokternya buat bo’ong dikit hehe”
Rista    :”fiuh! Untung deh loe nggak papa, alhamdulillah”
Dara    :”heh, kelewatan banget sih loe Wil, semua orang tu pada bingung mikirin loe, loe malah bercanda, mikir donng semua khawatir sama loe, pada senam jantung, malah dibuat bercanda, loe nggak mikir apa ini tu nggak lucu”
Willy:”wadaw! Ma’af deh Ra’, niat gue cuman buat bercanda jangan ngembek gitu dong!”
Dara    :”gue tuh udah nangis buat loe, sampe kering nih air mata, loe malah bercanda gini, gue kecewa sama loe Wil!” (berlalu pergi dengan kecewa menghuni jiwanya)
Willy:”Ra’ jangan gitu dong” (mencobai meraih Dara, namun tangan tak sampai
Rista    :”loe sih, keterlaluan juga Wil, jadi pergi kan Dara”
Willy:”yaudah gue susul dia dulu”
Rista    :”loe udah sembuh, nggak papa apa kalo keluar?!”
Willy:”gue nggak papa kok, tenang aja lagi”(mengcungkan jempol)
    Willy mengejar Dara dengan terhuyung-huyung, karena lara kaki yang didera menghambat gontai langkah cegah wanita manis ini pergi. Brakk!! Sekali lagi suara menggelagar memaksanya menoleh kebelakang. Dan sekali lagi raut nanar menghiasi wajah manis gadis bergelagat ternanap menyaksikan sekali lagi temannya tergeletak menggulai lemah
    Semakin bergejolak rasa sesal perasaan bersalah mengelayuti jiwa Dara manis yang masih terbeliak menatap sayu pemuda dihadapannya.
***

    Kreeek! Suara pintu mengagetkan gadis cantik mirip Rista yang termangu setelah membaca buku usang bersampul debu bertuliskan ICE. Ya,bukan Rista gadis cantik yang duduk bersila diatas kursi.
Rista    :”Kamu sedang apa?!”
Andara    :”Ini buku hariannya mama?! Mam Willy sama Dara nya kemana?! Kok nggak ada dalam cerita endingnya?!”
Rista mendekati buah hatinya dengan wajah sedikit kaget dan nafasnya terengah mengenang kisah menyesakkan paru.
Rista    :(matanya berkaca-kaca)”Bukan nak, ini buku harian sahabat mama, Dara”
Andara    :”ehem, terus tante Dara diman mam sekarang?!”
Rista    :”Dara, dara telah lenyap dari dunia fana’,(matanya, mulai berderaian air mata)”
Andara    :”loh, kok nangis mam?! Jangan nangis”
Rista    :”buku ini mama ambil di rumah Dara, karena rumahnya sudah tidak terurus dan mau dijual untuk biaya pengobatan Dara”
Andara    :”sakit apa mam tante Dara?!”
Rista    :”Setelah Willy kecelakaan yang kedua, dia benar-benar meninggalkan mama dan tante Dara, setelah itu Dara merasa kematian Willy adalah karenanya. Dia frustasi, setiap hari menangis, selalu mencoba bunuh diri, sampai akhirnya Dara dimasukkan ke rumah sakit jiwa, namun tekanan batin yang teramat sangat membuat Dara tidak kuat dan akhirnya meninggal dengan sesal masih menggelayutinya”(bercerita dengan sesekali terisak)
Andara    :”wah, kasihan ya mam”(nada prihatin)
Rista    :”itu sebabnya nama kamu jadi Andara”

Selasa, 14 Januari 2014

Telepon Iseng

Telepon berdering di kantor pusat FBI.
“Halo?”
“Halo, apakah ini FBI?”
“Ya. Apa yang Anda inginkan?”
“Saya menelepon untuk melaporkan tetangga saya Adrian Thibodeaux. Dia memiliki narkoba yang disembunyikan di dalam kayu bakarnya!”
“Terima kasih banyak untuk informasinya, Pak.”
Hari berikutnya, para agen FBI turun di rumah Thibodeaux. Mereka mencari kayu bakar di gudang. Menggunakan kapak, mereka membelah setiap potong kayu, tetapi tidak menemukan narkoba. Mereka meminta maaf kepada Thibodeaux dan pergi.
Telepon berdering di rumah Thibodeaux.
“Hei, Adrian! Apakah FBI datang?”
“Yeah!”
“Apakah mereka memotong kayu bakar Anda?”
“Yap”
“Bagus, sekarang giliran Anda untuk menelepon, saya perlu taman saya untuk dicangkuli.”
gimana?