Lirih dingin menyapa dara
manis dalam khitmadnya pagi, mehantarkan lamunannya melewati nirwana.
Membopong seonggok harap untuk nyatanya di kala mentari esok menyambut.
Denting mengalunkan elegi dalam raga, hampa.
Dara :”kapan ya kita bareng-bareng lagi?! Hah! (menghela nafas
sendat)”
Melodi angin memutar waktu hingga terik membelai bumi, namun wanita
berkerudung ini tetap tak ingin beranjak dari lamunannya, sampai bel
tanda tamu dimuka pintu berdering menggugah lamunan yang sungguh
membuang waktu.
Brak!!(membuka pintu)
Rista :”assalamu’alaikum wr. wb. (seraya tersenyum lembut)”
Dara :”wa’alaikumsalam wr. wb. mau cari siapa neng?! (senyum)”
Rista :”nyari bak sampah ada?!”
Dara :”aduh gak ada lah, emang buat apa?!”
Rista :”buat buang kamu (sambil menjulurkan lidah, mengejek),hahahaha
”
Dara :”haha, udah ah yuk masuk! Keburu lumutan diluar (menyambar
telapak tangan wanita berparas cantik nan lugu) ”
Percakapan berlanjut dalan ruang semu menjemukan sampai luapan memori
masalalu menyeruak dalam riuh suara hati. Mengenang kehidupan dimasa
lampau yang memberi bekas indah dalam pandangan hidup sahabat sedari
kecil ini.
Sayup suara berat seorang kaum adam terdengar samar mengingat dan
kenali suara yang harusnya tak asing ditelinga kedua insan yang ternanap
setelah dapat mengingat ketidak asingan suara mengarah mereka.
Willy:”Ra’, Ris!”(sembari melambaikan tangan pada keduanya)
Mata kedua insan ini terbeliak menatap dalam-dalam raut nyentrik didepan
batang hidung mereka.
Dara :”siapa loh!”
Rista :”iya nih siapa juga ni orang tak di kenal”
Willy:”gitu ya loe berdua, awas yah gue pergi nih!”
Dara :”pergi aja,weeeek (menjulurkan lidah tanda mengejek)”
Rista :”eh, jangan gitu kali Ra’, dia juga baru dateng udah suruh
pulang aja”
Dara :”hahaha, (tertawa setan) biarin, salah sendiri pergi lama
banget! Sampek nggak inget sama kita-kita”
Willy:”wait, wait, wait, gue inget kok nih buktinya gue ada didepan loe
pada”
Rista :“yaudah terserah loe aja deh”
Willy:”eh gimana, nih gue tambah ganteng kan?! Tambah cekli?! Tambah
keren ?!tambah mempesona kan?!”
Dara :(menyahut dagu laki-laki nyentrikvdan menggeleng-gelengkannya
mengamati perubahan)”loe kokjadi kayak, ehem. . . .”
Rista :“Jadi mirip larva yang kayak di tv itu loh, hahaha”
Willy:”bih, sekongkol loe berdua, huh! Awas ya?!”
Dara :”hahaha, santai berro”
Rista :”sudah kalian berdua jangan bercanda, bukan lelucon (bernada
garang). Ini cius loh, hahahahaha”
Willy:”hih, ni anak dikira marah tadi, eh malah bercanda, huuu, hahaha”
Dara :”iya nih, konyol deh nia anak”
Cuap-cuap mengisi indah suasana pertemuan kawan lama, menggeleparkan
rindu yang menyesakkan jiwa, sampai lantunan mega menyapa hari indah
penuh tawa riang.
Willy:”wah udah sore, nggak terasa ya kalo udah barengankayak gini,
hehe”
Rista :”iya nih, kalo udah sama-sama gini jadi lupa waktu, hahahaha”
Willy:”yaudah kan sekarang udah sore, gue pulang dulu ya, jangan ampe
nggak bisa tidur loh gara-gara mikirin gue, nanti gue pulang loe berdua
kangen lagi sama gue, haha ”
Dara :”nggak berubah ya loe, pede tingkat RT”
Rista :”udah,keburu maghrib loh”
Willy:”udah dulu ya, bye assalamu’alaikum wr. wb.”(melambaikan tangan
sraya mengedipkan mata dan tertawa)
Dara :”Dasar genit loe, hahaha”(berteriak)
***
Malam bergeming, angin melesapkan embun menggiring lantunan
melodi menari indah dibawah temaram sinar bintang menaungi. Melayang
alur fikiran wanita berparas legit mengindahkan hari.
Dara :”kalo gini tenteram sejahtera, indah sentosa,jaya selamanya
kalo udah bareng-bareng sahabat kecil”
Ia merebahkan punggung bertulang rusuk tak sempurna melepas lelah dan
membawa indah hari ini pergi dari dimensi fana setelah melaksanakan
kewajibannya menghadap sang khaliq.
***
Pagi menjelang, atap berembun menantang langit menyambut warna indah
makhluk indah-Nya. Dering benda elektronik ajaib menandakan telefon dari
seseorang nan jauh disana, menggugah cantiknya koridor mimpi wanita
yang terbaring ringan diatas empuk tumpukkan kapas.
Dara :”halo, assalamu’alaikum ada apa?!”(nada malas)
Willy :”bangun-bangun (berteriak)! ”
Dara :”eh, loe wil, kirain ayam jago nglindur nelfon gue, ada apaan
?!”
Willy:”Gue mau ngajakin jalan-jalan pagi, nigue sama Rista udah ada di
depan rumah loe”
Dara :”heh, ni anak kalo ngajak jalan-jalan nggak bilang dulu
sebelumnya, belum siap-siap ni gue”
Rista :”yaudah lah Ra’, cepet siap-siap gih, lagi pula emang
rencananya buat surprise buat loe kok, hehehe”
Dara :”yaudah, gue siap-siap dulu, jangan ditinggal ya!”
Rista :”iya, nona jago ngambek”
Dara :”hehe”
Setelah memencet tombol reject, ia tergopoh-gopoh mempersiapkan diri,
berlarian kesana-kemari, bingung menggelayuti.
Ia berjalan kelur rumah.
Dara :”kenapa nggak bilang dari awal sih, kalo mau jalan, nyebelin
deh kalian berdua”
Willy:”haha, waduh tu muka udah kusut aj, udah dong ngambeknya,
senyum dong! Gue ajarin deh kalo nggak bisa.” (sambil menarik kedua
ujung bibirnya memperihatkan senyum melebar)
Dara dan Rista :”hahaha, bisa aja”
Dara :”udah yuk jalan, kebru siang loh”
Rista :”Capcus cint”
Satu kompi sahabat ini jalan-jalan pagi mengitari jalanan taman
pinggir kota, menikmati sambutan sinar mentari menjamah bumi pertiwi.
***
Hari bersilih mereka penuhi dengan gemerlap tawa nan canda istimewa,
dengan hari berikutnya, berikutnya. Bernostalgia ditaman pinggir kota.
Terik matahari melumerkan es krim di tangan penikmat es krim.
Willy:”hei, jangan lari ya kalian! Awas kalo kenak gue bales loe berdua,
hahaha”
Rista :”nggak bisa, enggak bisa, hahaha”(tertawa setan)
Dara :”kejar kalo bisa, weeek”(menjulurkan lidah)
Gelak tawa tiga sekawan ini menyusutkan sengatan sinar sang surya
menyapa. Berpeluh kesenangan melingkupi raut muda para pemuda-pemudi
belia ini.
Rista dan Dara berlari menyeberangi jalan dihadapannya, Brak!!
Suara menggelegar memaksa mereka menoleh ke belakang. Wajah yang
awalnya merekahkan senyum, mulai berubah beraut nanar, nampak di
kejauhan sahabat kecil yang tabiatnya selalu membuat orang tertawa geli
tergeletak bersimpuh darah di tengah jalan, terserempet mobil. Gelayut
rasa gundah mengalun lirih dalam benak kedua gadis ini, dalam perjalanan
ke rumah sakit.
Rista :”Wil, bangun wil, loe nggak papakan?!”(sesekali terisak)
Dara :”Wil, sadar Wil”(menggoyahkan tubuh laki-laki yang terkulai
lemah)
Dokter:”ma’af, kalian tidak boleh masuk”
Tertunduk pilu, sendu dalam pandangan mata kedua sahabat kecil menemani
suasana hening menghentakkan nadi.
Setelah beberapa saat
Suara pintu terbuka, disambut kedua gadis yang menitikan air mata.
Rista :”Dokter, gimana temen saya?!”
Dokter :(hanya menggelengkan kepala)”saya sudah berusaha semampu saya”
Tanpa pikir panjang mereka masuk dalam ruang beraroma obat mengikat
paru. Terpaku melihat seorang insan tergeletak diatas ranjang empuk,
diselimuti sampai diatas kepala.
Dara :”Wil, gue nggak percaya loe udah pergi, loe nggak boleh
ninggalin kita Wil”(isakkan tangis menghisai)
Rista :”sabar Ra’! mungkin udah waktunya, kita nggak bisa apa-apa
sekarang, percuma”(derai air mata memenuhi ruangan penuh senyap)
Willy:”ciluk baaa!! Hahahaha, eh sumpah lucu loe berdua kalo lgi nangis
gini, bentar-bentar gue ambil foto dulu ya”
Rista :”loe nggak jadi mati?! Sumpah bikin gue jantungan Wil”
Willy:”hehe, gue sih nggakpapa cuma lecet dikit kok, tadi gue minta
tolong sama dokternya buat bo’ong dikit hehe”
Rista :”fiuh! Untung deh loe nggak papa, alhamdulillah”
Dara :”heh, kelewatan banget sih loe Wil, semua orang tu pada
bingung mikirin loe, loe malah bercanda, mikir donng semua khawatir sama
loe, pada senam jantung, malah dibuat bercanda, loe nggak mikir apa ini
tu nggak lucu”
Willy:”wadaw! Ma’af deh Ra’, niat gue cuman buat bercanda jangan ngembek
gitu dong!”
Dara :”gue tuh udah nangis buat loe, sampe kering nih air mata,
loe malah bercanda gini, gue kecewa sama loe Wil!” (berlalu pergi dengan
kecewa menghuni jiwanya)
Willy:”Ra’ jangan gitu dong” (mencobai meraih Dara, namun tangan tak
sampai
Rista :”loe sih, keterlaluan juga Wil, jadi pergi kan Dara”
Willy:”yaudah gue susul dia dulu”
Rista :”loe udah sembuh, nggak papa apa kalo keluar?!”
Willy:”gue nggak papa kok, tenang aja lagi”(mengcungkan jempol)
Willy mengejar Dara dengan terhuyung-huyung, karena lara kaki
yang didera menghambat gontai langkah cegah wanita manis ini pergi.
Brakk!! Sekali lagi suara menggelagar memaksanya menoleh kebelakang. Dan
sekali lagi raut nanar menghiasi wajah manis gadis bergelagat ternanap
menyaksikan sekali lagi temannya tergeletak menggulai lemah
Semakin bergejolak rasa sesal perasaan bersalah mengelayuti jiwa
Dara manis yang masih terbeliak menatap sayu pemuda dihadapannya.
***
Kreeek! Suara pintu mengagetkan gadis cantik mirip Rista yang
termangu setelah membaca buku usang bersampul debu bertuliskan ICE.
Ya,bukan Rista gadis cantik yang duduk bersila diatas kursi.
Rista :”Kamu sedang apa?!”
Andara :”Ini buku hariannya mama?! Mam Willy sama Dara nya kemana?!
Kok nggak ada dalam cerita endingnya?!”
Rista mendekati buah hatinya dengan wajah sedikit kaget dan nafasnya
terengah mengenang kisah menyesakkan paru.
Rista :(matanya berkaca-kaca)”Bukan nak, ini buku harian sahabat
mama, Dara”
Andara :”ehem, terus tante Dara diman mam sekarang?!”
Rista :”Dara, dara telah lenyap dari dunia fana’,(matanya, mulai
berderaian air mata)”
Andara :”loh, kok nangis mam?! Jangan nangis”
Rista :”buku ini mama ambil di rumah Dara, karena rumahnya sudah
tidak terurus dan mau dijual untuk biaya pengobatan Dara”
Andara :”sakit apa mam tante Dara?!”
Rista :”Setelah Willy kecelakaan yang kedua, dia benar-benar
meninggalkan mama dan tante Dara, setelah itu Dara merasa kematian Willy
adalah karenanya. Dia frustasi, setiap hari menangis, selalu mencoba
bunuh diri, sampai akhirnya Dara dimasukkan ke rumah sakit jiwa, namun
tekanan batin yang teramat sangat membuat Dara tidak kuat dan akhirnya
meninggal dengan sesal masih menggelayutinya”(bercerita dengan sesekali
terisak)
Andara :”wah, kasihan ya mam”(nada prihatin)
Rista :”itu sebabnya nama kamu jadi Andara”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar