Selasa, 21 Januari 2014

Kata

Anda layaknya guntur
Yang tiba-tiba menyelusup diantara buliran hujan yang runtuh
Gelak lantunan menggelegar menghentakkan nyali
Menghantakkan sanubari senyap
Menyesakkan paru sesaat
Anda membuat hati ini jera
Jera untuk bercinta

Tanya ?

Hey..
Untuk apa saya menulis?
Menuliskan pekatnya malam kah?
Mengalunkan detik jam yang berdetak kah?
Mengukir riuhnya hela nafas yang terhembus?
Untuk apa saya menulis?
Untuk engkau kah kasih?
Isyaratkan meditasi dangkal
Mengikuti laju ujung benda tumpul bertinta merah
Untuk apa saya menulis?
Jika segala tenggelam dalam gempita embun setengah pagi.

Terlalu Bodoh kah Aku?



Terlalu bodoh kah aku?
Saat anak adam berseru meminta tolong
Setelah ku tolong mereka tertawa
Terlalu bodoh kah aku?
Saat aku disuruh mengerjakan pe-er teman ku, aku menyanggupinya dengan senang hati
Selisih beberpa jam ia mengolok-olok ku
Terlalu bodoh kah aku?
Saat ujian aku memberian kertas jawabanku pada teman di depan bangku ku
Dalam rentan waktu yang tidak lama dia mengacuhkan ku seakan sebelumnya tak terjadi apa-apa

Aku

Aku, yang  aku
Wanita miskin tanpa hati
Tiada dapat ku torehkan, secarik kertas putih tetap putih
Bising otakku penuh caci, sampai suara hati tak dengar lagi
Buruknya aku di hadapanmu Tuhan
Inilah aku yang di-aku-aku
Ataukah aku yang ter-aku
Ini celaku
Aku dan keakuanku
Congkak menantang langit
Konyol! ketika kusadari ke-akuanku
Bodohny aku ketika tersungkur
Dan hinanya aku yang tak bisa berdiri atas congkakku
Tuhan
Ini aku dan ke-akuanku
Sekali lagi (lagi, lagi dan lagi..) kabulkan keegoisanku
Untuk tetap berdiri dan tinggi
Tanpa harus tersungkur ataupun mundur
Tanpa harus ku tanggung congkakku
Tanpa harus silau kemilau godaan

Belajar

Jalanan lengang mengerang hebat
Dihadapku
Gulita malam dengan temaram lampu neon
Gantung
Elegi isyaratkan petang
Petang patung dihadapan cermin
Dusta
Buta
Belajar mendusta
Belajar membuta

Secret Ice

Lirih dingin menyapa dara manis dalam khitmadnya pagi, mehantarkan lamunannya melewati nirwana. Membopong seonggok harap untuk nyatanya di kala mentari esok menyambut. Denting mengalunkan elegi dalam raga, hampa.
Dara    :”kapan ya kita bareng-bareng lagi?! Hah! (menghela nafas sendat)”
Melodi angin memutar waktu hingga terik membelai bumi, namun wanita berkerudung ini tetap tak ingin beranjak dari lamunannya, sampai bel tanda tamu dimuka pintu berdering menggugah lamunan yang sungguh membuang waktu.
Brak!!(membuka pintu)
Rista    :”assalamu’alaikum  wr. wb. (seraya tersenyum lembut)”
Dara    :”wa’alaikumsalam wr. wb. mau cari siapa neng?! (senyum)”
Rista    :”nyari bak sampah ada?!”
Dara    :”aduh gak ada lah, emang buat apa?!”
Rista    :”buat buang kamu (sambil menjulurkan lidah, mengejek),hahahaha ”
Dara    :”haha, udah ah yuk masuk! Keburu lumutan diluar (menyambar telapak tangan wanita berparas cantik nan lugu) ”
Percakapan berlanjut dalan ruang semu menjemukan sampai luapan memori masalalu menyeruak dalam riuh suara hati. Mengenang kehidupan dimasa lampau yang memberi bekas indah dalam pandangan hidup sahabat sedari kecil ini.
Sayup suara berat seorang kaum adam terdengar samar mengingat dan kenali suara yang harusnya tak asing ditelinga kedua insan yang ternanap setelah dapat mengingat ketidak asingan suara mengarah mereka.
Willy:”Ra’, Ris!”(sembari melambaikan tangan pada keduanya)
Mata kedua insan ini terbeliak menatap dalam-dalam raut nyentrik didepan batang hidung mereka.
Dara    :”siapa loh!”
Rista    :”iya nih siapa juga ni orang tak di kenal”
Willy:”gitu ya loe berdua, awas yah gue pergi nih!”
Dara    :”pergi aja,weeeek (menjulurkan lidah tanda mengejek)”
Rista    :”eh, jangan gitu kali Ra’, dia juga baru dateng udah suruh pulang aja”
Dara    :”hahaha, (tertawa setan) biarin, salah sendiri pergi lama banget! Sampek nggak inget sama kita-kita”
Willy:”wait, wait, wait, gue inget kok nih buktinya gue ada didepan loe pada”
Rista    :“yaudah terserah loe aja deh”
Willy:”eh gimana, nih gue tambah ganteng kan?! Tambah cekli?! Tambah keren ?!tambah mempesona kan?!”
Dara    :(menyahut dagu laki-laki nyentrikvdan menggeleng-gelengkannya mengamati perubahan)”loe kokjadi kayak, ehem. . . .”
Rista    :“Jadi mirip larva yang kayak di tv itu loh, hahaha”
Willy:”bih, sekongkol loe berdua, huh! Awas ya?!”
Dara    :”hahaha, santai berro”
Rista    :”sudah kalian berdua jangan bercanda, bukan lelucon (bernada garang). Ini cius loh, hahahahaha”
Willy:”hih, ni anak dikira marah tadi, eh malah bercanda, huuu, hahaha”
Dara    :”iya nih, konyol deh nia anak”
Cuap-cuap mengisi indah suasana pertemuan kawan lama, menggeleparkan rindu yang menyesakkan jiwa, sampai lantunan mega menyapa hari indah penuh tawa riang.
Willy:”wah udah sore, nggak terasa ya kalo udah barengankayak gini, hehe”
Rista    :”iya nih, kalo udah sama-sama gini jadi lupa waktu, hahahaha”
Willy:”yaudah kan sekarang udah sore, gue pulang dulu ya, jangan ampe nggak bisa tidur loh gara-gara mikirin gue, nanti gue pulang loe berdua kangen lagi sama gue, haha ”
Dara    :”nggak berubah ya loe, pede tingkat RT”
Rista    :”udah,keburu maghrib loh”
Willy:”udah dulu ya, bye assalamu’alaikum wr. wb.”(melambaikan tangan sraya mengedipkan mata dan tertawa)
Dara    :”Dasar genit loe, hahaha”(berteriak)
***
    Malam bergeming, angin melesapkan embun menggiring lantunan melodi menari indah dibawah temaram sinar bintang menaungi. Melayang alur fikiran wanita berparas legit mengindahkan hari.
Dara    :”kalo gini tenteram sejahtera, indah sentosa,jaya selamanya kalo udah bareng-bareng sahabat kecil”
Ia merebahkan punggung bertulang rusuk tak sempurna melepas lelah dan membawa indah hari ini pergi dari dimensi fana setelah melaksanakan kewajibannya menghadap sang khaliq.
***
Pagi menjelang, atap berembun menantang langit menyambut warna indah makhluk indah-Nya. Dering benda elektronik ajaib menandakan telefon dari seseorang nan jauh disana, menggugah cantiknya koridor mimpi wanita yang terbaring ringan diatas empuk tumpukkan kapas.
Dara    :”halo, assalamu’alaikum ada apa?!”(nada malas)
Willy    :”bangun-bangun (berteriak)! ”
Dara    :”eh, loe wil, kirain ayam jago nglindur nelfon gue, ada apaan ?!”
Willy:”Gue mau ngajakin jalan-jalan pagi, nigue sama Rista udah ada di depan rumah loe”
Dara    :”heh, ni anak kalo ngajak  jalan-jalan nggak bilang dulu sebelumnya, belum siap-siap ni gue”
Rista    :”yaudah lah Ra’, cepet siap-siap gih, lagi pula emang rencananya buat surprise buat loe kok, hehehe”
Dara    :”yaudah, gue siap-siap dulu, jangan ditinggal ya!”
Rista    :”iya, nona jago ngambek”
Dara    :”hehe”
Setelah memencet tombol reject, ia tergopoh-gopoh mempersiapkan diri, berlarian kesana-kemari, bingung menggelayuti.
Ia berjalan kelur rumah.
Dara    :”kenapa nggak bilang dari awal sih, kalo mau jalan, nyebelin deh kalian berdua”
Willy:”haha, waduh tu muka udah kusut aj, udah dong ngambeknya, senyum dong! Gue ajarin deh kalo nggak bisa.” (sambil menarik kedua ujung bibirnya memperihatkan senyum melebar)
Dara dan Rista    :”hahaha, bisa aja”
Dara    :”udah yuk jalan, kebru siang loh”
Rista    :”Capcus cint”
Satu kompi sahabat ini jalan-jalan pagi mengitari jalanan taman pinggir kota, menikmati sambutan sinar mentari menjamah bumi pertiwi.
***
Hari bersilih mereka penuhi dengan gemerlap tawa nan canda istimewa, dengan hari berikutnya, berikutnya. Bernostalgia ditaman pinggir kota. Terik matahari melumerkan es krim di tangan penikmat es krim.
Willy:”hei, jangan lari ya kalian! Awas kalo kenak gue bales loe berdua, hahaha”
Rista    :”nggak bisa, enggak bisa, hahaha”(tertawa setan)
Dara    :”kejar kalo bisa, weeek”(menjulurkan lidah)
Gelak tawa tiga sekawan ini menyusutkan sengatan sinar sang surya menyapa. Berpeluh kesenangan melingkupi raut muda para pemuda-pemudi belia ini.
Rista dan Dara berlari menyeberangi jalan dihadapannya, Brak!!
Suara menggelegar memaksa mereka menoleh ke belakang. Wajah yang awalnya merekahkan senyum, mulai berubah beraut nanar, nampak di kejauhan sahabat kecil yang tabiatnya selalu membuat orang tertawa geli  tergeletak bersimpuh darah di tengah jalan, terserempet mobil. Gelayut rasa gundah mengalun lirih dalam benak kedua gadis ini, dalam perjalanan ke rumah sakit.
Rista    :”Wil, bangun wil, loe nggak papakan?!”(sesekali terisak)
Dara    :”Wil, sadar Wil”(menggoyahkan tubuh laki-laki yang terkulai lemah)
Dokter:”ma’af, kalian tidak boleh masuk”
Tertunduk pilu, sendu dalam pandangan mata kedua sahabat kecil menemani suasana hening menghentakkan nadi.
Setelah beberapa saat
Suara pintu terbuka, disambut kedua gadis yang menitikan air mata.
Rista    :”Dokter, gimana temen saya?!”
Dokter :(hanya menggelengkan kepala)”saya sudah berusaha semampu saya”
Tanpa pikir panjang mereka masuk dalam ruang beraroma obat mengikat paru. Terpaku melihat seorang insan tergeletak diatas ranjang empuk, diselimuti sampai diatas kepala.
Dara    :”Wil, gue nggak percaya loe udah pergi, loe nggak boleh ninggalin kita Wil”(isakkan tangis menghisai)
Rista    :”sabar Ra’! mungkin udah waktunya, kita nggak bisa apa-apa sekarang, percuma”(derai air mata memenuhi ruangan penuh senyap)
Willy:”ciluk baaa!! Hahahaha, eh sumpah lucu loe berdua kalo lgi nangis gini, bentar-bentar gue ambil foto dulu ya”
Rista    :”loe nggak jadi mati?! Sumpah bikin gue jantungan Wil”
Willy:”hehe, gue sih nggakpapa cuma lecet dikit kok, tadi gue minta tolong sama dokternya buat bo’ong dikit hehe”
Rista    :”fiuh! Untung deh loe nggak papa, alhamdulillah”
Dara    :”heh, kelewatan banget sih loe Wil, semua orang tu pada bingung mikirin loe, loe malah bercanda, mikir donng semua khawatir sama loe, pada senam jantung, malah dibuat bercanda, loe nggak mikir apa ini tu nggak lucu”
Willy:”wadaw! Ma’af deh Ra’, niat gue cuman buat bercanda jangan ngembek gitu dong!”
Dara    :”gue tuh udah nangis buat loe, sampe kering nih air mata, loe malah bercanda gini, gue kecewa sama loe Wil!” (berlalu pergi dengan kecewa menghuni jiwanya)
Willy:”Ra’ jangan gitu dong” (mencobai meraih Dara, namun tangan tak sampai
Rista    :”loe sih, keterlaluan juga Wil, jadi pergi kan Dara”
Willy:”yaudah gue susul dia dulu”
Rista    :”loe udah sembuh, nggak papa apa kalo keluar?!”
Willy:”gue nggak papa kok, tenang aja lagi”(mengcungkan jempol)
    Willy mengejar Dara dengan terhuyung-huyung, karena lara kaki yang didera menghambat gontai langkah cegah wanita manis ini pergi. Brakk!! Sekali lagi suara menggelagar memaksanya menoleh kebelakang. Dan sekali lagi raut nanar menghiasi wajah manis gadis bergelagat ternanap menyaksikan sekali lagi temannya tergeletak menggulai lemah
    Semakin bergejolak rasa sesal perasaan bersalah mengelayuti jiwa Dara manis yang masih terbeliak menatap sayu pemuda dihadapannya.
***

    Kreeek! Suara pintu mengagetkan gadis cantik mirip Rista yang termangu setelah membaca buku usang bersampul debu bertuliskan ICE. Ya,bukan Rista gadis cantik yang duduk bersila diatas kursi.
Rista    :”Kamu sedang apa?!”
Andara    :”Ini buku hariannya mama?! Mam Willy sama Dara nya kemana?! Kok nggak ada dalam cerita endingnya?!”
Rista mendekati buah hatinya dengan wajah sedikit kaget dan nafasnya terengah mengenang kisah menyesakkan paru.
Rista    :(matanya berkaca-kaca)”Bukan nak, ini buku harian sahabat mama, Dara”
Andara    :”ehem, terus tante Dara diman mam sekarang?!”
Rista    :”Dara, dara telah lenyap dari dunia fana’,(matanya, mulai berderaian air mata)”
Andara    :”loh, kok nangis mam?! Jangan nangis”
Rista    :”buku ini mama ambil di rumah Dara, karena rumahnya sudah tidak terurus dan mau dijual untuk biaya pengobatan Dara”
Andara    :”sakit apa mam tante Dara?!”
Rista    :”Setelah Willy kecelakaan yang kedua, dia benar-benar meninggalkan mama dan tante Dara, setelah itu Dara merasa kematian Willy adalah karenanya. Dia frustasi, setiap hari menangis, selalu mencoba bunuh diri, sampai akhirnya Dara dimasukkan ke rumah sakit jiwa, namun tekanan batin yang teramat sangat membuat Dara tidak kuat dan akhirnya meninggal dengan sesal masih menggelayutinya”(bercerita dengan sesekali terisak)
Andara    :”wah, kasihan ya mam”(nada prihatin)
Rista    :”itu sebabnya nama kamu jadi Andara”

Selasa, 14 Januari 2014

Telepon Iseng

Telepon berdering di kantor pusat FBI.
“Halo?”
“Halo, apakah ini FBI?”
“Ya. Apa yang Anda inginkan?”
“Saya menelepon untuk melaporkan tetangga saya Adrian Thibodeaux. Dia memiliki narkoba yang disembunyikan di dalam kayu bakarnya!”
“Terima kasih banyak untuk informasinya, Pak.”
Hari berikutnya, para agen FBI turun di rumah Thibodeaux. Mereka mencari kayu bakar di gudang. Menggunakan kapak, mereka membelah setiap potong kayu, tetapi tidak menemukan narkoba. Mereka meminta maaf kepada Thibodeaux dan pergi.
Telepon berdering di rumah Thibodeaux.
“Hei, Adrian! Apakah FBI datang?”
“Yeah!”
“Apakah mereka memotong kayu bakar Anda?”
“Yap”
“Bagus, sekarang giliran Anda untuk menelepon, saya perlu taman saya untuk dicangkuli.”
gimana?

Pantun

Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
Di tepi kali saya menyinggah


 Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
Buah berangan dari Jawa


Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
Bunga mawar bunga melati


Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya
Ada ubi ada talas


Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana
Sebab mulut badan merana

Impianku

Basahnya embun pagi menyapaku
Kicauan suara burung mengiringiku
Hembusan angin menuntun langkahku
Panasnya sinar matahari membakar semangatku
Semangat tuk berjuang memetik sedikit ilmu


Tak terasa sudah terlalu jauh langkahku
Tampak terlukis seberkas cahaya impian pada bola mataku
Tapi . . . . .
Kenapa . . . . .
Kenapa hati ini tiba-tiba terasa sendu
Langkah kaikupun menjadi kaku
Seakan telah sirna cahya impianku


Ribuan kupu-kupu datang menghampiriku
Menari-nari mengelilingiku
Seolah memberi isyarat padaku
Isyarat tuk bangkit dari belenggu
Belenggu yang menyelimuti hatiku


Saat itu juga mulai bangkitlah semangatku
Ku kayuhkan lebih kencang langkah kakiku
Tuk menjemput impian didepan mataku
Impian yang telah lama menantiku
Mengharap kedatanganku





Lembar Jawaban

Tiba saat dibagian tersulit, ya mengawali sebuah skenario kehidupan hari ini dalam lampiran-lampiran kosong yang akan berisi jutaan kata bertinta hitam. Oh sungguh saya tidak suka ini.
Seteguk air berwarna hitam pekat sepekat malam ini sebagai penyambut jemari ini berlarian memijaki keyboard untuk merampungkan segala tugas setelah libur tengah semester, oke mulai dengan bisikan lirih kepada Tuhan agar segalanya lancar. Membuat ulasan tentang novel terjemahan merupakan tuntutan salah satu mata kuliah ditengah semester ini. Actually, saya tidak terlalu suka membaca, entahlah bagaimana saya terdampar di Fakultas Sastra Indonesia ini. Tuntutan pada masa perkuliahan santer terdengar lebih mengerikan saat saya masih di SMA, tapi untungnya saat saya telah mematahkan asumsi beberapa orang tentang beratnya tantangan yang dihadapi saat masa perkuliahan. Anggap saja ini hampir mirip dengan film yang berjudul S. A. O. dimana kita hidup dalam dunia firtual dan harus berjuang menaikkan level dengan melawan para monster-monster, bertahan hidup dengan berburu monster atau bahkan harus terlibat cinta dalam sebuah perang terhebat (dalam dunia itu tentunya). Dan harus berpeluh darah (mungkin) agar sampai ke puncak untuk menyelesaikan permainan.
Tapi sayangnya hidup itu tidak semudah bermain game, tapi cobalah membuatnya semudah dan semenarik game. Ya, sekedar untuk menenangkan dan sekedar memotivasi diri sendiri kalau kehidupan itu tidaklah sesarat yang banyak dibayangkan dan bahkan dialami kebanyakan insan Tuhan yang merasa hidup itu sangatlah sukar. Yaa, seperti anggapan saya saat ini. Bip bip nada sms handphone saya berbunyi. Oh, M-Tronik hanya pesan penanda pulsa telah bersemayam dinomor saya. Sudah lewat tengah malam namun belum rampung juga tugas saya. Wah! berbunyi lagi handphone saya, kali ini bukan sms tapi telfon yang bernada dering lagu dari Bryan Adam berjudul Heaven, memang lagu itu sudah dari jaman bahula tapi sungguh saya menikmatinya. Oh iya, siapa itu?. Nama Cupid terpampang dilayar handphone bebe berwarna merah menggoda, jangan salah bukan Cupid yang pembawa panah cintanya yang siap menembakkan panah asmaranya pada pasangan yang sedang kasmaran. Ini Cupid yang berhidung mungil cuping hidungnya kecil lubang hidungnya pun sempit begitu mereka (kawan-kawan saya) menjulukinya, mungkin itu salah satu faktor yang membuat asma bersarang diraganya, haha. Oke, saya mengangkat teleponnya, Halo, assalamualaikum?, Waalaikumsalam Cha, jawaban Cupid dengan lirih, saaangat lirih bahkan suara yang ia sampaikan tak ada beda dengan semilir angin yang baru saja membelai dingin daun telinga saya. Ada apa Fit? Tumben jam segini nelfon, ada masalah? Kamu sakit? Asma mu kumat?, Fit?, ya Fitra nama aslinya. aku nggak sakit kok, aku Cuma , Cuma apa?, Cuma mau, Duaaaaaaar! Happy birthday to you Happy birthday to you Happy birthday Happy birthday Happy birthday to you, met milad kawan wish you all the best lah, sorry ya ngagetin, haha eh aku yang pertama ngucapin kan Ca?, suara yang awalnya penuh dengan kesunyian kemudian beralih seperti suara saat perang pasifik, teriakan banyak meriam ditembakkan, dipadupadankan dengan derap langkah pasukan bersenjata meluncurkan ribuan peluru. Mengacaukan alunan sepi yang disampaikan malam. iya-iya Fit, kamu yang pertama. Besok aku kasih reward deh soalnya kamu yang pertama ngucapin. Makasih ya!, Oke sama-sama. Wah! Bener nih Ca? Nggak sabar buat besok deh, hehe emang kamu mau ngasih reward apa?, permen chupa chups rasa blueberry satu, jiah! ni anak rewardnya yang keren dikit kek kayak kue, coklat, atau teraktiran di kantin gitu, hehe, iya deh tungguin besok aja., asyik, teraktiran nih pasti, hahaha, jangan seneng dulu lawong aku cuma mau ngasih efde yang aku pinjem kemaren kok, hahaha, haha, nyebelin banget sih!, eh tugas dari dosen baru udah selesai?,udah tinggal dikit. Emm, biar aku tebak pasti belum kan kamu? haha,Nah loh! Ngeremehin ni anak, udah yee, tapi dibantuin Arman, hahaha. Arman, ya salah satu mahasiswa yang menurut saya paling beruntung terlahir dengan kehidupan yang lebih dari cukup, dan mempunyai ayah seorang rektor di kampusnya sendiri serta punya pacar secantik Fitra tingginya semampai tampangnya lumayan. Tapi saya tidak terlalu suka padanya karena dia mengidap penyakit angkuh, galak sombong, maka dari itu saya akan mengakhiri perbincangan ini sebelum Fitra mulai banyak menceritakan tentang Arman karena saya selalu ingin muntah kala dia menceritakan segudang cerita tentangnya. Yee, pantesan udah. Eh aku mau ngelanjutin kerjaan nih udah dulu ya, and makasih ucapannya dibela-belain melek pagi hahaha,oke, sama- sama, yaudah Assalamualaikum, Waalaikumsalam. Tutt tuutt tuutt . . .
Akhirnya saya bisa melanjutkan tugas ini, fiuhh! menghela nafas sejenak. Kehangatan benda empuk menggoda saya. Oh tidak! saya tidak bisa menolak. Zzzzzzzz. . . .
____***____
Ini masih pagi, tapi mendung sudah terarak meneduhkan bumi. Begitu pula meneduhkan hati saya, karena setelah kaki saya menapak di paving depan gerbang kampus mata saya menangkap basah seorang pria ramah bertopi dengan kaos merah dan memakai celana serta memakai sepatu putih. Hmm pria yang menjabal hati saya sejak lama itu teramat sering singgah dalam lamunan saya disetiap harinya. Memandanginya setiap saat tidak akan membuat saya jemu. Yaa, mungkin saja itu sekedar empati dan semoga benar hanya sekedar empati. Suara nyaring menggugah lamunanku. Oca! Kevin, teman wanita di kelompok saya yang paling banyak ngoceh melambaikan tangan, Hai, Vin saya membalas lambaiannya. Eh, hari ini ultah ya?! Happy birthday ya! oke, makasih ya!, yuk ke kelas, iya!.
Tidak banyak yang memberikan ucapan selamat untuk saya, yaa karena mereka tahu saya adalah wanita yang tidak terlalu memperhitungkan hari ulang tahun, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun pun jarang. Menurut saya itu tidaklah penting apa lagi sampai dirayakan sungguh itu pemborosan.
Kerumunan mahasiswa di lapangan tengah menggugah saya sejenak menengok apa yang terjadi. Ternyata tubuh seorang wanita yang sangat saya kenal terkulai lemah di pangkuan pria yang saya kagumi. Raisha, wanita yang sedang pingsan ini bisa disebut sebagai sahabat saya karena kami selalu bersama-sama bahkan kedekatan kami, dibuat lelucon dengan mengatakan kami ini lesbian. Salah dua alasannya karena sampai saat ini saya belum pernah mencicipi yang namanya pacaran. Yah, terserah apa kata mereka saya tidak perduli. Tapi terkadang saya juga memikirkan kenapa saya seperti itu, apa karena saya terlalu sibuk berkutat dengan sastra sampai-sampai itu terjadi? Ah, saya rasa tidak toh saya sekarang sedang berempati (mungkin) dengan pria yang menjabal hati saya, oh saya berharap itu sekedar empati, ya sekedar empati amin.
Wildan, adalah pria yang telah dapat menjabal hati wanita menjengkelkan yang selalu berkutat di dunia sastra (saya) itu membopong Raisha ke tempat lebih teduh dan mulai mencoba menyadarkannya. Ada Cupid yang juga pingsan di sebelahnya, dua wanita ini sahabat saya yang sama-sama menderita penyakit asma. Mungkin kali ini mereka sudah janjian pingsan berjamaah. Saya menghampirinya dengan tampang tenang dan bertanya, Abis ngapain mereka, kok sampe pingsan?! bukan saya tidak perduli saya menyikapi ini dengan tenang, karena saya sudah terbiasa menghadapi mereka yang seperti ini. Wildan menggeleng, tampangnya nampak kebingungan dan terlihat khawatir terhadap Raisha yang sedari tadi belum sadar. 1 menit sudah saya menunggu mereka siuman, dan akhirnya Raisha dan Cupid membuka mata, perlu dicurigai mereka ini memang berjamaah saya rasa, bahkan saat membuka matapun mereka bersamaan, ckckckck. Mungkin karena mereka saudara sepupu jadi kemistrinya dapet. Raisha mulai didudukkan dan anda tahu? Wildan terlihat sangat khawatir, dia bertanya banyak kepada Raisha, gini nih tanyanya, gimana, udah baikan? Mau minum? Minuman yang anget ya? Biar enakan!, Mau makan bubur? Dan Raisha hanya menjawab TIDAK, mungkin karena. Saya berbisik dalam palung otak saya, aduh nih orang kalo nanyak kayak kereta api jalan nggak berenti-berenti.
Saya sudah maklum, karena memang sejak lama Wildan PDKT dengan Raisha namun entah mengapa Raisha tak menanggapinya, dan saya sedikit iri namun ya sudahlah mari kita lanjutkan ini. Saya mengulurkan tangan ke Raisha,dan membantunya berdiri begitu pula saat membantu Fitra berdiri, mengajak mereka ke ruang kesehatan.
Saya menanyakan bagaimana keadaannya, dia hanya tersenyum simpul dan mengatakan Tadi lucu ya ekspresinya si Wildan? Haha, Lah lah, yang pedekate, huuh hela nafas Fitra menyadarkan ingatanku bahwa aku bukan siapa-siapa, aku menanggapinya enteng ehhem, yang lagi peekate, hehehe kasihan tuh Fitra, udah pingsan tapi Arman malah nggak dateng, haha, Iya nih, kemana aja sih tu kodok mata empat, nggak khawatir apa sama ceweknya yang kece ini, aku memandang lekat wanita yang menampak kecintaan yang mulai tumbuh, ya sungguh jelas terlihat dalam lamunannya sedari tadi, tak indahkan lamunannya, saya menanggapi celotehan wanita childish yang berbaring di atas kasur empuk bersprei putih, Haha, tumben tumbenan manggil dia keg gitu? Biasanya kalau aku manggil dia keg gitu kamunya gimanaaaaa gituuu, Kodok mata empat adalah julukan untuk lelaki berkacamata bernama Arman, Abisnya dia nyebelin, pantes dong aku nyebut keg gitu, haha, Udah ah bercandanya, istirahat gih bentar lagi aku juga ada kelas. Aku balik dulu ya daaaa aku melambaikan tangan, namun hanya Fitra yang membalah Raisha masih tak ingin hengkang dengan lamunannya. Saya berlalu pergi, dengan sedikit rasa kecewa karena telah sempat melihat kejadian miris menyayat hati.
Sejak saat itu mereka mulai semakin dekat, mungkin saya hanya dapat memeluk rasa ini erat-erat dan menyelipkan pada celah tersempit hati saya. Ehm mungkin itu sedikit gila, tapi benar itu yang saya lakukan.
Hari ini giliran saya mengumpulkan puisi untuk memenuhi tugas sebagai salah satu anggota redaksi majalah di kampus, ya walau saya menjabat sebagai ketua redaksi bukan berarti semua rubrik dan bahan lainnya rekan saya yang mengerjakan, namun saya juga ingin punya andil dikesuksesan ini kelak. Saya tidak yakin akan memuat puisi gila ini
Palsu
Seakan aku yang diaku aku
Kering keronta sudah genangan air mata setengah terbeliak
Sedari embun membasahi hari
Seakan aku yang diaku aku
Pejalanan intuisi ini meluruhkan asaku
Laba-laba kecil di sudut ruang tergelak setan
Seakan aku yang diaku aku
Oh sungguh mengoyak-ngoyak anggunnya rasa nurani
Mengaduh dalam koyakan
Seakan aku yang diaku aku
Kontradiksi didalam
Kenapa harus mencipta puisi seperti ini, oh pasti kerana dikau sang penjabal hati saya. Huh, kau itu menjungkir balikkan kehidupan saya, membuat saya seperti ini. Ah jikalau saya beranikan diri saya menyatakan pasti akan seperti guntur yang datang tiba-tiba memecahkan ombak, dan membuat langit menangis, hmm saya tidak ingin sejahat itu pada hati saya, karena saya tahu hasilnya pasti tidak akan menyenangkan.
Ya ya ya mungkin kelihatannya dari tulisan ini saya sangat santai menanggapinya, tapi asal anda tahu saya sudah BEKERJA GILA untuk mengendalikan emosi saya ini agar terlihat biasa. Sedikit harapan, semoga saja anda tahu What I Feel.
___***___
Berita ini sungguh menghancurkan hati saya layaknya kaca yang dihantam truk kontener dan hancur cur cur menjadi serpihan halus seperti debu lalu terikat sang bayu dan terbang lenyap. Oh Tuhan, saya berlari menuju toilet dan menangis lirih, semoga saja saya bersua dengan tenang ketika saya dihadapkan dengan hal ini. Entahlah Tuhan, perjalanan cinta ini memang melelahkan. Membuat saya jera tuk bercinta. Setelah menyeka garis basah dikedua pipi ini, saya hampiri Raisha dengan sedikit rasa kesal namun harus saya katakan, Selamat ya udah jadian sama Wildan, teraktirannya ditunggu nih, hehe gelak sumbingku dicaci semut hitam di seberang bangku, mengingatkanku tentang sebuah ikatan sahabat. Fiuh lewat hela nafas ini kusampaikan risalah padanya (semut hitam diseberang jalan) Sssstttt!!! Jangan kau katakan ini pada siapapun, terlebih padanya mereka yang terpaut cinta. Raisha menjawab diantarkan dengan senyum merekah dibibirnya, iya, seneng banget aku, sesingkat itu lalu dia memelukku, dan berbisik akan lebih menyenangkan jika dia menjadi milikmu. Aku tersentak, kalau sempat aku akan bertanya, mengapa kau berkata seperti itu?, namun tak sempat lagi. Dia melepaskan ku dan berkata, Tidak-tidak aku hanya bercanda, haha, Haha kembali aku tersenyum sumbing, Cupid udah tau?kemana ya tuh anak? mengalihkan perhatian. Raisha melongok ke sekitar menilik setiap sudut tempat matanya berlarian mencoba menemukan sosok Cupid. Ternyata dia menangkap sosok Cupid di bawah pohon beringin, mungkin ia sedang melakukan ritual (kemungkinan gila). Kami menghampirinya, dan ingin bertanya sedang apa dan mengapa dia berada di bawah pohon ini, tapi saat ingin berucap dia telah lebih dulu memalingkan wajah nanarnya kemudian memeluk kami dan berkata, kawan, aku galau dengan nada bicara layaknya tokoh diiklan kartu as yang pernyataannya Kimmy, aku galau. Sudah tertebak tanpa kami bertanya alasannya menangis kenapa, dia telah menanggalkan hubungan kasihnya dengan Arman, karena beberapa hari terakhir mereka terlihat sering bertengkar alasannya sifat Cupid yang childish. Kami menenangkannya dengan kata-kata yang biasa digunakan motivator, (soalnya sehari sebelumnya saya menonton serial tivi tentang motivasi) dan membawanya berkeliling kota dan bershopping ria, saya hanya menemani bukan karena kantong tipis tapi saya lebih senang menghamburkan uang dan waktu saya untuk buku. Yah, para Shopaholic mulai menjarah toko-toko di mall, dan menghamburkan uang mereka. Dan (lagi) saya masih dalam belenggu tanya saya, mengapa Wildan memilih Raisha? Mengapa bukan saya? Mengapa saya menaruh hati pada Wildan? Padahal jelas-jelas dia menyukai Raisha, Mengapa sampai saat ini saya memikirkannya? Mengapa saya bertanya-tanya tentangnnya? Apakah semua pertanyaan saya ini patut dijawab?.
Brakk!!!
Tumbukan kebahu saya tanpa sengaja dari seorang pria yang saya rasa saya kenal mendorong saya menubruk barang-barang yang dibawa Raisha, karena dia berada didepan saya. Ternyata benar dia pria yang kami semua kenal, saya terkejut. Maaf maaf nggak sengaja dia memunguti barang-barang yang jatuh, dan membantu saya berdiri. ngapain di sini? Ngebuntutin aku ya? dengan sedikit membentak Fitra berkata dengan Arman, Ge er banget sih, lawong aku kesini mau nyari buku, Nyari buku kok lewat toko baju, ketahuan ngibulnya, huuh Fitra menengadahkan dagu, Yaa, kan lewat aja nggak papa, yeee Arman sedikit geragap menjawabnya sangat terlihat berbohong. Saya berlalu pergi, tak berkata apapun hanya berlalu, bukan marah melainkan hanya ingin melanjutkan lamunan yang tadi dengan segala tanya yang sempat kabur akibat tumbukan rakus (rasanya) gara-gara Arman. Sesaat mereka hanya memebelalakkankan mata melihat saya berlalu, mata mereka bertanya Kenapa?, gestur tubuh saya tak dapat mereka baca. Raisha memanggilku Ocha! Kamu marah? enggak lah ngapain marah jawab saya singkat, Cha, maafin aku yaa? ku bener-bener nggak sengaja tadi, nggak niat bikin kamu marah tampangnya hampir mirip dengan Wildan saat melihat Raisha pingsan sekian hari yang lalu, hmm saya rasa itu hal biasa. kenapa sih, aku biasa aja Man. Denger kalian ngoceh perutku juga ikut-ikutan, mau cari makan aku tidak mungkin aku berkata sebenarnya Oh, kirain, hehe senyuman lega darinya disambut ketus oleh Fitra huh, Ocha tuh sebenere sebel banget cuma nggak tega aja ngomong langsung kalo kamu bikin dia sebel, Dianya biasa aja kenapa situ yang sewot sih, Raisha menengahi udah, kok masih dilanjutin. Ocha laper makan aja yuk! Aku diajak kan? Arman yang aneh untuk hari ini, mungkin sedang ingin pedekate lagi dengan Fitra, ya saya rasa begitu. Nggak usah! Ngapain ngajakin cowo macam kamu, bikin repot, Terusin aja ampek pagi, aku duluan aja, saya menggandeng Raisha dan membawanya pergi, Eh, eh tungguin! mereka menyusul kemudian tapi cekcok berlanjut saat di restoran, dijalan menuju parkiran. Sungguh menyebalkan. Untung saya seorang yang pelit bicara kalau tidak saya sudah caci maki mereka. Sebenarnya saya juga berfikir entah mengapa kesombongan keangkuhan nya tak nampak saat tadi. Bukankah seharusnya dia orang yang angkuh galak plus sombong.
___***___
Mentari muda lahir dari peraduannya awan mengembangkan senyumannya menyambut hari yang cerah ini, semoga ini juga menjadi awal di mana saya mencerahkan kehidupan saya (Amin). Buku yang saya bawa kali ini cukup membuat keringat saya bercucuran menapaki beratus anak tangga, entah mungkin ada angin mamiri di kampus, tiba-tiba Wldan mencoba bercengkrama dengan saya dan tentunya membawakan buku-buku saya. Ini membuat jantung saya berdegup kesetanan, saya berharap degupan jantung ini tak terdengar sampai ke telinganya walau cicak polkadot di sudut tembok tertawa geli mendengarnya. Banyak hal tapi tak satu pun ia ucapkan tentang Raisha, aneh. Apa dia telah menangkap signal dari saya?! Ah mungkin tidak!. Tapi ini membuat saya sungguh tidak nyaman. Entahlah, apa karena dia milik Raisha, dan saya menghargainya, begitu?! Ya sudahlah lah setidaknya dengan kedatangannya sedikit membantu saya membawakan buku-buku yang kira-kira beratnya 7 kg yang membuat saya telat masuk kelas. Untung ini sudah bukan SMA yang telat harus meminta surat izin ke guru piket, hanya memberi salam dan kemudian duduk mendengarkan tuntutan (lagi) yang harus diselesaikan minggu depan. Tak lepas dari itu, saya masih memikirkan apa yang dilakukan Wildan tadi, Untuk apa? Mengapa? Kok bisa? Banyak hal yang terbungkam ketidak beranian saya yang tentunya tidak sempat saya tanyakan. Saya harap itu timbal balik atas perasan saya padanya selama ini (amin). Saat setelah membeli snack, saya berpapasan dengan Wildan dia tersenyum manis, sangat manis. Kemudian aku mengaisnya memeluk lekat-lekat menyimpannya dalam-dalam. Kemudian semuanya buyar karena saya lagi-lagi ditabrak oleh sorang pria mantan kekasih teman saya, ya Arman. Aduh, maaf maaf ketabrak lagi Cha, hehe, Dasar kodok mata empat, udah pake kacamata masih aja suka nubruk, entah kenapa sesaat setelah berkata ketus seperti itu saya merasa bersalah mungkin karena memang dia tak sengaja dan saya mengatakan hal seketus itu padanya, oh Arman maafkan saya, itu yang saya ingin sampaikan jika saya berani. jiah! Kan aku udah minta maaf, kurang?! kurang, beliin permen chupa chups 1 haha, kayak anak kecil aja doyannya permen so?! Kalo nggak suka jangan ngarep aku terima maaf dari kamu, mencoba mengakrabkan diri dan sedikit guyonan karena rasa bersalah tentang pernyataan saya tadi. haha, iya-iya nanti aku transfer lewat bluetooth, oke?! terserah deh, aku ke kelas dulu saya berlalu sedikit ketus memang, tapi ya sudahlah saya malas terlalu banyak bicara padanya. Tiba di bangku, nampak buku yang saya butuhkan berjudul Republik Jancukers di balut pita berwarna merah dengan simpul disudutnya sungguh apik. Pikiran saya menerka-nerka siapa gerangan yang memberi saya buku ini, Apa mungkin Wildan? Alibinya tadi saya sempat bercerita bahwa saya sedang mencari buku itu. Tapi apakah secepat itu dia mendapatkannya dan memberikannya untuk saya? Dan bagaimana dengan Raisha? Sungguh ini membingungkan, kemungkinan besar memang dia. Oh hati ini mengudara menikmati indah sanubari.
Saat pulang Raisha memanggilku dia mengajakku ke rumahnya untuk merayakan nilai IP nya yang nyaris sempurna, 3.8 yaaa memang pantas dia mendapatkannya, karena memang keahliannya dibidang eksak sungguh menakjubkan. Kami bercakap-cakap dengan khidmat kemudian Wildan menghampiri, membawa tiga botol minuman segar, dan memberikannya satu padaku, satu pada Raisha dan satu botol yang sebagian isinya telah diteguknya untuk dirinya sendiri. Tau aja kalo Aus bebarengan kami mengatakan itu pada Wildan, Haha, yaiyalah kan aku pengertian sesaat matanya tadi memandang saya pekat, entah memang benar atau itu yang saya ingin lihat.
Malamnya ditempat Raisha nampak seoarang pria entah siapa duduk di samping Fitra, tanpa bertanya (lagi) saya tahu itu pacar baru Fitra. Hanya saya yang tidak berpasangan di tempat itu, oh sungguh ironis mengapa saya tidak punya kekasih?!. Pesta Barbeqeu dimulai mereka asyik bermain makanan dan panggangan, dan aku hanya memandangnya serta sesekali meneguk minuman manis dalam kaleng, bukannya tak ingin membantu tapi tak ingin mengganggu lebih tepatnya. Namun hati ini tak kunjung berhenti bertanya mengapa? Bagaimana bisa? Apa? Semuanya tentang tingkah laku Wildan. Raisha dan Wildan menghampiri, kok bengong? Udah laper? Yaudah aku ambilin makanan ringan dulu di dalem bentar ya, belum jawab eh dijawab sendiri, kebiasaan cekikikan Wildan membuatku bertanya lagi, kenapa? lucu aja, haha mencoba memberanikan diri berucap terimakasih, emm, eh makasih yang buat yang tadi siang tau aja aku lagi butuhin tu barang, hehe oh, iya sama-sama hehe. Raisha kembali dengan membawa toples berisi cemilan dan menyerahkannya pada saya. Nih biar nggak bengong aja kerjaannya, haha hehe, iya makasih, Wildan mengangkat tubuhnya hendak mengekor pada Raisha, namun ia berkata supaya Wildan menemani saya. Kami banyak membicarakan hal-hal lucu, kemudian dia melontarkan pertanyaan yang membuat saya tercekat dia bertanya apa kesukaan saya, sedikit bingung saya menjawab permen chupa chups. Dia tertawa mengatakan saya memang seperti anak kecil, saya juga ikut tertawa bersamanya.
___***___
Di bangku ku lagi-lagi ada benda yang mengejutkan, ada permen chupa chups diatasnya dengan kertas bertuliskan pesan dari pengirim. Ditulisannya mengatakan Semoga kau suka dengan ini. Fikir saya langsung tertuju pada Wildan, saya menghampirinya dan ingin berkata terimakasih. Wil, kamu yang ngasih permennya ya? Makasih banget ya ,hehe Bukan, aku lo nggak ngasih kamu apa-apa loh la terus siapa? mana aku tau dia mengangkat bahunya. Suara berat dari kejauhan terdengar sampai ditelinga, suara yang sangat saya kenal. Lagi-lagi Arman, ternyata dia menyerukan bahwa dia yang memberikannya untukku, katanya sih sebagai tanda permintaan maaf karena telah menabrak saya. Oh, jadi kamu yang ngasih saya membuka bungkusnya dan langsung melahapnya dengan berlalu meninggalkan dua anak adam itu, sempat saya menoleh kebelakang dan berkata pada Arman Makasih yaaa. Saya kira Wildan, dan sangat berharap itu memang Wildan, ternyata sikodok mata empat. Its okey setidaknya manisnya permen ini mengingatkan saya dengan manis senyumannya yang masih saya simpan.
___***___
Kelas telah usai dan saya segera ingin pulang, namun kerumunan BEM menghalangi, Lagi-lagi demo, fuuh kira saya. Ada salah satu anggota BEM menarik tangan saya membawa saya ke tengah kerumunan tumpukan daging bernafas. Sungguh saya tercengang lagi lagi lagi dan lagi saya menemukan sosok yang tidak asing, Arman dengan mawar merah ditangan kirinya dan permen chupa chups ditangan kanannya dia berada ditengah kobaran api hasil permbakaran beberapa barang mudah terbakar dibentuk hati. Saya hanya melongo menyaksikan kegilaan yang dia lakukan, lalu dia berteriak menyatakan perasaannya pada saya, dan meminta saya untuk jadi kekasihnya. Saya tidak habis fikir kenapa dia bisa mempunyai perasaan itu kepada saya. Saya hanya terdiam, diam seribu bahasa tak berucap apa-apa sekedar tersenyum simpul kemudian berlalu menerobos barisan kompi manusia di tepi. Memang dia adalah anggota BEM yang sangat digandrungi mahasiswi dikampus, jadi tidak heran jika banyak yang membantunya merencanakan hal gila ini. Mungkin ini sangat kejam hanya meninggalkannya tanpa berkata suatu apapun namun entahlah saat itu saya tak ingin berkata-apa-apa. Mungkin jikalau saya beranikan diri untuk meminta maaf saya akan melakukannya sesaat setelah saya meninggalkannya ditengah kerumunan tumpukan daging bernafas.
Berita bahwa Arman menyatakan perasaannya pada saya telah tersebar menelusup sudut kampus, begitu pula telah terdengar oleh kedua sahabat saya. Raisha dan Fitra menemui saya yang masih belum memikirkan kejadian sebelum ini di bascame, Chiie yang abis ditembak, haha dengan bersama mereka berkata seperti mengejek, atau apalah itu yang senada.oh! jawab saya ketus, Diterima kan? Masak betah menjomblo terus, hehe Raisha memulai, emm, nggak usah dibahas lah, Nggakpapa lagi Cha, jangan nggak enak sama aku, hahaha dia kan udah bukan milik aku, aku ngrestuin kok hehehe, ngomong apa sih kalian! Huh saya mulai kesal, Atau jangan-jangan kamu punya pria idaman lain ya? Hayoo nggak crita-crita dalam hati, hanya dalam hati saya menjawab ya memang benar saya mempunyai pria idaman lain, yaitu Wildan! Kekasihmu!. Untungnya itu hanya dalam hati ya hanya dalam hati. aku cuma belum siap untuk semua ini, pintunya disebelah sana aku menunjuk pintu bescame yang terbuka. Mereka mengerti dan berlalu. Aku, terlalu jahatkah aku? Maaf. Maaf? mungkin tidak cukup dengan kata maaf untuk menebus banyak perkataan dan perlakuanku pada mereka, orang-orang yang menyayangi saya, saya akan berusaha lebih dari kata maaf.
Malamnya saya menelfon, dan mengatakan bahwa saya tidak memiliki rasa lebih dari teman, mungkin jikalau memang jodoh tidak akan kemana. Jalani saja layaknya air mengalir begitu saya menyikapinya. Karena hati saya masih terpaut oleh Wildan, Wildan yang ternyata mendekati saya bertanya apa kesukaan saya kerana ingin membantu Arman mendapatkan saya. Kecewa, itu yang saat ini saya rasa menyesal yang membelenggu batin saya. Kecewa karena terlalu membumbung tinggi dan akhirnya terjatuh dan hancur, menyesal telah membuat Arman kecewa. Tapi apa daya, jika memang ini adanya. Namun entah mengapa setelah kejadian itu berlalu Arman terlihat lebih bersemangat menjalani hari dan juga bersemangat mengganggu saya dengan perhatiannya bahkan dia berkata akan menanti saya. Sampai hari wisuda tiba kemudian dia berlalu entah kemana. Ya sudahlah saya tak ingin ambil pusing toh pada awalnya saya memang tak menyukainya.
___***___
Karir yang saat ini saya geluti tanpa campur tangan percintaan didalamnya dan melupakan kisah percintaan dimasa perkuliahan membuat saya sukses menjadi salah satu novelist terbaik di Indonesia, yang sering diundang di kampus-kampus untuk menjadi tamu atau sekedar untuk mengulas novel-novel yang saya buat, dan teman-temanku juga sukses dibidang masing-masing. Dibulan ini saja saya telah diundang oleh 5 universitas terbaik yang ada. Senjakala sudah menyambut saya begitu pula para mahasiswa di salah satu kampus di Yogyakarta, diundangnya saya menjadi tamu saat bulan sastra merupakan kehormatan terbesar bagi saya. Acara dimulai, ini lebih menakjubkan dari acara bulan bahasa saat saya dulu di tempat kuliah. Dipertengahan acara saya melangkahkan kaki menuju toilet, di perjalanan menuju toilet saya merasa ada yang mengikuti namun saya mengacuhkannya, mungkin hanya orang yang sejalan dengan saya.
Setelah selesai saya beranjak meninggalkan toilet, di jalan saya tidak sengaja bersenggolan dengan pria bertopi merah, membawa beberapa buku dengan laku gusar. Buukk!! Bukunya terjatuh saat menyenggol, mungkin terjatuh atau memang dijatuhkan. Dia meminta maaf dan lalu pergi. Saya mengambilnya dan berkata bahwa bukunya terjatuh, dia tak mendengar atau memang sengaja tak mendengarkan. Sampulnya bertuliskan Look at This, entah mengapa jari jemari tergerak untuk membuka, saya mulai membuka satu persatu lembaran usang tergores tinta merah. Saya membacanya duduk dikursi hijau menyejukkan di lobi.
Oh! Ini cerita tentang diri saya terdahulu, berbagai potret saya memenuhi lembaran ini. Bahkan potret ketika saya merajut asa, kehidupan saya dimasyarakat, siapa dia ini?yang mengejutkan dengan buku nampak banyak potret iri saya. Sekejap saya mengingat salah satu foto yang saya duga hanya salah seorang kawan saya yang memotretnya. Menuliskan ke-akuaan dirinya yang terdiam berpatung menunggu saya, dan bahkan sampai sekarang saya tak sadar dia menunggu saya. Seorang yang saya kenal menuliskannya untuk saya, di akhir cerita ada 1 lembaran kosong untuk apa? Kenapa?. Kemudian pria tadi menghampiri kemudian duduk disebelah saya, melepas topinya melihat saya dan seakan menjawab semua pertanyaan yang ada dalam sanubari. Dia berkata Ini lembar jawab untuk penantianku selama aku masih bernyawa, mengais sisa sisa senyuman terakhirmu yang dahulu dan menyimpannya rapat-rapat mengasa jika memang bisa. Aku sekedar menyayangimu sekedarnya, ya hanya sekedar menyayangimu itu yang aku patrikan sejak mendapati senyumanmu indah, mungkin itu hanya sekedar untukmu. Sekarang dirimu telah tahu segalanya, aku serahkan lembar jawaban ini kepadamu tentukan alurnya. Aku siap menerima, jikalau penantianku tak jua berujung. Aku pun tak apa jika dahaga ini tak segera kau basuh. Dan jikalau memang terjadi izinkan ku peluk erat senyumanmu yang terakhir ini untuk kubawa bekal menyejukkan nurani, tak terasa suara berat mengharukan itu membuat garis basah di kedua pipi, saya tak mengerti. Saya hanya memeluknya.