Tiba saat dibagian tersulit, ya mengawali sebuah
skenario kehidupan hari ini dalam lampiran-lampiran kosong yang akan
berisi jutaan kata bertinta hitam. Oh sungguh saya tidak suka ini.
Seteguk air berwarna hitam pekat sepekat malam ini sebagai penyambut
jemari ini berlarian memijaki keyboard untuk merampungkan segala tugas
setelah libur tengah semester, oke mulai dengan bisikan lirih kepada
Tuhan agar segalanya lancar. Membuat ulasan tentang novel terjemahan
merupakan tuntutan salah satu mata kuliah ditengah semester ini.
Actually, saya tidak terlalu suka membaca, entahlah bagaimana saya
terdampar di Fakultas Sastra Indonesia ini. Tuntutan pada masa
perkuliahan santer terdengar lebih mengerikan saat saya masih di SMA,
tapi untungnya saat saya telah mematahkan asumsi beberapa orang tentang
beratnya tantangan yang dihadapi saat masa perkuliahan. Anggap saja ini
hampir mirip dengan film yang berjudul S. A. O. dimana kita hidup dalam
dunia firtual dan harus berjuang menaikkan level dengan melawan para
monster-monster, bertahan hidup dengan berburu monster atau bahkan harus
terlibat cinta dalam sebuah perang terhebat (dalam dunia itu tentunya).
Dan harus berpeluh darah (mungkin) agar sampai ke puncak untuk
menyelesaikan permainan.
Tapi sayangnya hidup itu tidak semudah bermain game, tapi cobalah
membuatnya semudah dan semenarik game. Ya, sekedar untuk menenangkan dan
sekedar memotivasi diri sendiri kalau kehidupan itu tidaklah sesarat
yang banyak dibayangkan dan bahkan dialami kebanyakan insan Tuhan yang
merasa hidup itu sangatlah sukar. Yaa, seperti anggapan saya saat ini.
Bip bip nada sms handphone saya berbunyi. Oh, M-Tronik hanya pesan
penanda pulsa telah bersemayam dinomor saya. Sudah lewat tengah malam
namun belum rampung juga tugas saya. Wah! berbunyi lagi handphone saya,
kali ini bukan sms tapi telfon yang bernada dering lagu dari Bryan Adam
berjudul Heaven, memang lagu itu sudah dari jaman bahula tapi sungguh
saya menikmatinya. Oh iya, siapa itu?. Nama Cupid terpampang dilayar
handphone bebe berwarna merah menggoda, jangan salah bukan Cupid yang
pembawa panah cintanya yang siap menembakkan panah asmaranya pada
pasangan yang sedang kasmaran. Ini Cupid yang berhidung mungil cuping
hidungnya kecil lubang hidungnya pun sempit begitu mereka (kawan-kawan
saya) menjulukinya, mungkin itu salah satu faktor yang membuat asma
bersarang diraganya, haha. Oke, saya mengangkat teleponnya, Halo,
assalamualaikum?, Waalaikumsalam Cha, jawaban Cupid dengan lirih,
saaangat lirih bahkan suara yang ia sampaikan tak ada beda dengan
semilir angin yang baru saja membelai dingin daun telinga saya. Ada apa
Fit? Tumben jam segini nelfon, ada masalah? Kamu sakit? Asma mu kumat?,
Fit?, ya Fitra nama aslinya. aku nggak sakit kok, aku Cuma , Cuma apa?,
Cuma mau, Duaaaaaaar! Happy birthday to you Happy birthday to you Happy
birthday Happy birthday Happy birthday to you, met milad kawan wish you
all the best lah, sorry ya ngagetin, haha eh aku yang pertama ngucapin
kan Ca?, suara yang awalnya penuh dengan kesunyian kemudian beralih
seperti suara saat perang pasifik, teriakan banyak meriam ditembakkan,
dipadupadankan dengan derap langkah pasukan bersenjata meluncurkan
ribuan peluru. Mengacaukan alunan sepi yang disampaikan malam. iya-iya
Fit, kamu yang pertama. Besok aku kasih reward deh soalnya kamu yang
pertama ngucapin. Makasih ya!, Oke sama-sama. Wah! Bener nih Ca? Nggak
sabar buat besok deh, hehe emang kamu mau ngasih reward apa?, permen
chupa chups rasa blueberry satu, jiah! ni anak rewardnya yang keren
dikit kek kayak kue, coklat, atau teraktiran di kantin gitu, hehe, iya
deh tungguin besok aja., asyik, teraktiran nih pasti, hahaha, jangan
seneng dulu lawong aku cuma mau ngasih efde yang aku pinjem kemaren kok,
hahaha, haha, nyebelin banget sih!, eh tugas dari dosen baru udah
selesai?,udah tinggal dikit. Emm, biar aku tebak pasti belum kan kamu?
haha,Nah loh! Ngeremehin ni anak, udah yee, tapi dibantuin Arman,
hahaha. Arman, ya salah satu mahasiswa yang menurut saya paling
beruntung terlahir dengan kehidupan yang lebih dari cukup, dan mempunyai
ayah seorang rektor di kampusnya sendiri serta punya pacar secantik
Fitra tingginya semampai tampangnya lumayan. Tapi saya tidak terlalu
suka padanya karena dia mengidap penyakit angkuh, galak sombong, maka
dari itu saya akan mengakhiri perbincangan ini sebelum Fitra mulai
banyak menceritakan tentang Arman karena saya selalu ingin muntah kala
dia menceritakan segudang cerita tentangnya. Yee, pantesan udah. Eh aku
mau ngelanjutin kerjaan nih udah dulu ya, and makasih ucapannya
dibela-belain melek pagi hahaha,oke, sama- sama, yaudah Assalamualaikum,
Waalaikumsalam. Tutt tuutt tuutt . . .
Akhirnya saya bisa melanjutkan tugas ini, fiuhh! menghela nafas sejenak.
Kehangatan benda empuk menggoda saya. Oh tidak! saya tidak bisa
menolak. Zzzzzzzz. . . .
____***____
Ini masih pagi, tapi mendung sudah terarak meneduhkan bumi. Begitu pula
meneduhkan hati saya, karena setelah kaki saya menapak di paving depan
gerbang kampus mata saya menangkap basah seorang pria ramah bertopi
dengan kaos merah dan memakai celana serta memakai sepatu putih. Hmm
pria yang menjabal hati saya sejak lama itu teramat sering singgah dalam
lamunan saya disetiap harinya. Memandanginya setiap saat tidak akan
membuat saya jemu. Yaa, mungkin saja itu sekedar empati dan semoga benar
hanya sekedar empati. Suara nyaring menggugah lamunanku. Oca! Kevin,
teman wanita di kelompok saya yang paling banyak ngoceh melambaikan
tangan, Hai, Vin saya membalas lambaiannya. Eh, hari ini ultah ya?!
Happy birthday ya! oke, makasih ya!, yuk ke kelas, iya!.
Tidak banyak yang memberikan ucapan selamat untuk saya, yaa karena
mereka tahu saya adalah wanita yang tidak terlalu memperhitungkan hari
ulang tahun, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun pun jarang. Menurut
saya itu tidaklah penting apa lagi sampai dirayakan sungguh itu
pemborosan.
Kerumunan mahasiswa di lapangan tengah menggugah saya sejenak menengok
apa yang terjadi. Ternyata tubuh seorang wanita yang sangat saya kenal
terkulai lemah di pangkuan pria yang saya kagumi. Raisha, wanita yang
sedang pingsan ini bisa disebut sebagai sahabat saya karena kami selalu
bersama-sama bahkan kedekatan kami, dibuat lelucon dengan mengatakan
kami ini lesbian. Salah dua alasannya karena sampai saat ini saya belum
pernah mencicipi yang namanya pacaran. Yah, terserah apa kata mereka
saya tidak perduli. Tapi terkadang saya juga memikirkan kenapa saya
seperti itu, apa karena saya terlalu sibuk berkutat dengan sastra
sampai-sampai itu terjadi? Ah, saya rasa tidak toh saya sekarang sedang
berempati (mungkin) dengan pria yang menjabal hati saya, oh saya
berharap itu sekedar empati, ya sekedar empati amin.
Wildan, adalah pria yang telah dapat menjabal hati wanita menjengkelkan
yang selalu berkutat di dunia sastra (saya) itu membopong Raisha ke
tempat lebih teduh dan mulai mencoba menyadarkannya. Ada Cupid yang juga
pingsan di sebelahnya, dua wanita ini sahabat saya yang sama-sama
menderita penyakit asma. Mungkin kali ini mereka sudah janjian pingsan
berjamaah. Saya menghampirinya dengan tampang tenang dan bertanya, Abis
ngapain mereka, kok sampe pingsan?! bukan saya tidak perduli saya
menyikapi ini dengan tenang, karena saya sudah terbiasa menghadapi
mereka yang seperti ini. Wildan menggeleng, tampangnya nampak
kebingungan dan terlihat khawatir terhadap Raisha yang sedari tadi belum
sadar. 1 menit sudah saya menunggu mereka siuman, dan akhirnya Raisha
dan Cupid membuka mata, perlu dicurigai mereka ini memang berjamaah saya
rasa, bahkan saat membuka matapun mereka bersamaan, ckckckck. Mungkin
karena mereka saudara sepupu jadi kemistrinya dapet. Raisha mulai
didudukkan dan anda tahu? Wildan terlihat sangat khawatir, dia bertanya
banyak kepada Raisha, gini nih tanyanya, gimana, udah baikan? Mau minum?
Minuman yang anget ya? Biar enakan!, Mau makan bubur? Dan Raisha hanya
menjawab TIDAK, mungkin karena. Saya berbisik dalam palung otak saya,
aduh nih orang kalo nanyak kayak kereta api jalan nggak berenti-berenti.
Saya sudah maklum, karena memang sejak lama Wildan PDKT dengan Raisha
namun entah mengapa Raisha tak menanggapinya, dan saya sedikit iri namun
ya sudahlah mari kita lanjutkan ini. Saya mengulurkan tangan ke
Raisha,dan membantunya berdiri begitu pula saat membantu Fitra berdiri,
mengajak mereka ke ruang kesehatan.
Saya menanyakan bagaimana keadaannya, dia hanya tersenyum simpul dan
mengatakan Tadi lucu ya ekspresinya si Wildan? Haha, Lah lah, yang
pedekate, huuh hela nafas Fitra menyadarkan ingatanku bahwa aku bukan
siapa-siapa, aku menanggapinya enteng ehhem, yang lagi peekate, hehehe
kasihan tuh Fitra, udah pingsan tapi Arman malah nggak dateng, haha, Iya
nih, kemana aja sih tu kodok mata empat, nggak khawatir apa sama
ceweknya yang kece ini, aku memandang lekat wanita yang menampak
kecintaan yang mulai tumbuh, ya sungguh jelas terlihat dalam lamunannya
sedari tadi, tak indahkan lamunannya, saya menanggapi celotehan wanita
childish yang berbaring di atas kasur empuk bersprei putih, Haha, tumben
tumbenan manggil dia keg gitu? Biasanya kalau aku manggil dia keg gitu
kamunya gimanaaaaa gituuu, Kodok mata empat adalah julukan untuk lelaki
berkacamata bernama Arman, Abisnya dia nyebelin, pantes dong aku nyebut
keg gitu, haha, Udah ah bercandanya, istirahat gih bentar lagi aku juga
ada kelas. Aku balik dulu ya daaaa aku melambaikan tangan, namun hanya
Fitra yang membalah Raisha masih tak ingin hengkang dengan lamunannya.
Saya berlalu pergi, dengan sedikit rasa kecewa karena telah sempat
melihat kejadian miris menyayat hati.
Sejak saat itu mereka mulai semakin dekat, mungkin saya hanya dapat
memeluk rasa ini erat-erat dan menyelipkan pada celah tersempit hati
saya. Ehm mungkin itu sedikit gila, tapi benar itu yang saya lakukan.
Hari ini giliran saya mengumpulkan puisi untuk memenuhi tugas sebagai
salah satu anggota redaksi majalah di kampus, ya walau saya menjabat
sebagai ketua redaksi bukan berarti semua rubrik dan bahan lainnya rekan
saya yang mengerjakan, namun saya juga ingin punya andil dikesuksesan
ini kelak. Saya tidak yakin akan memuat puisi gila ini
Palsu
Seakan aku yang diaku aku
Kering keronta sudah genangan air mata setengah terbeliak
Sedari embun membasahi hari
Seakan aku yang diaku aku
Pejalanan intuisi ini meluruhkan asaku
Laba-laba kecil di sudut ruang tergelak setan
Seakan aku yang diaku aku
Oh sungguh mengoyak-ngoyak anggunnya rasa nurani
Mengaduh dalam koyakan
Seakan aku yang diaku aku
Kontradiksi didalam
Kenapa harus mencipta puisi seperti ini, oh pasti kerana dikau sang
penjabal hati saya. Huh, kau itu menjungkir balikkan kehidupan saya,
membuat saya seperti ini. Ah jikalau saya beranikan diri saya menyatakan
pasti akan seperti guntur yang datang tiba-tiba memecahkan ombak, dan
membuat langit menangis, hmm saya tidak ingin sejahat itu pada hati
saya, karena saya tahu hasilnya pasti tidak akan menyenangkan.
Ya ya ya mungkin kelihatannya dari tulisan ini saya sangat santai
menanggapinya, tapi asal anda tahu saya sudah BEKERJA GILA untuk
mengendalikan emosi saya ini agar terlihat biasa. Sedikit harapan,
semoga saja anda tahu What I Feel.
___***___
Berita ini sungguh menghancurkan hati saya layaknya kaca yang dihantam
truk kontener dan hancur cur cur menjadi serpihan halus seperti debu
lalu terikat sang bayu dan terbang lenyap. Oh Tuhan, saya berlari menuju
toilet dan menangis lirih, semoga saja saya bersua dengan tenang ketika
saya dihadapkan dengan hal ini. Entahlah Tuhan, perjalanan cinta ini
memang melelahkan. Membuat saya jera tuk bercinta. Setelah menyeka garis
basah dikedua pipi ini, saya hampiri Raisha dengan sedikit rasa kesal
namun harus saya katakan, Selamat ya udah jadian sama Wildan,
teraktirannya ditunggu nih, hehe gelak sumbingku dicaci semut hitam di
seberang bangku, mengingatkanku tentang sebuah ikatan sahabat. Fiuh
lewat hela nafas ini kusampaikan risalah padanya (semut hitam diseberang
jalan) Sssstttt!!! Jangan kau katakan ini pada siapapun, terlebih
padanya mereka yang terpaut cinta. Raisha menjawab diantarkan dengan
senyum merekah dibibirnya, iya, seneng banget aku, sesingkat itu lalu
dia memelukku, dan berbisik akan lebih menyenangkan jika dia menjadi
milikmu. Aku tersentak, kalau sempat aku akan bertanya, mengapa kau
berkata seperti itu?, namun tak sempat lagi. Dia melepaskan ku dan
berkata, Tidak-tidak aku hanya bercanda, haha, Haha kembali aku
tersenyum sumbing, Cupid udah tau?kemana ya tuh anak? mengalihkan
perhatian. Raisha melongok ke sekitar menilik setiap sudut tempat
matanya berlarian mencoba menemukan sosok Cupid. Ternyata dia menangkap
sosok Cupid di bawah pohon beringin, mungkin ia sedang melakukan ritual
(kemungkinan gila). Kami menghampirinya, dan ingin bertanya sedang apa
dan mengapa dia berada di bawah pohon ini, tapi saat ingin berucap dia
telah lebih dulu memalingkan wajah nanarnya kemudian memeluk kami dan
berkata, kawan, aku galau dengan nada bicara layaknya tokoh diiklan
kartu as yang pernyataannya Kimmy, aku galau. Sudah tertebak tanpa kami
bertanya alasannya menangis kenapa, dia telah menanggalkan hubungan
kasihnya dengan Arman, karena beberapa hari terakhir mereka terlihat
sering bertengkar alasannya sifat Cupid yang childish. Kami
menenangkannya dengan kata-kata yang biasa digunakan motivator, (soalnya
sehari sebelumnya saya menonton serial tivi tentang motivasi) dan
membawanya berkeliling kota dan bershopping ria, saya hanya menemani
bukan karena kantong tipis tapi saya lebih senang menghamburkan uang dan
waktu saya untuk buku. Yah, para Shopaholic mulai menjarah toko-toko di
mall, dan menghamburkan uang mereka. Dan (lagi) saya masih dalam
belenggu tanya saya, mengapa Wildan memilih Raisha? Mengapa bukan saya?
Mengapa saya menaruh hati pada Wildan? Padahal jelas-jelas dia menyukai
Raisha, Mengapa sampai saat ini saya memikirkannya? Mengapa saya
bertanya-tanya tentangnnya? Apakah semua pertanyaan saya ini patut
dijawab?.
Brakk!!!
Tumbukan kebahu saya tanpa sengaja dari seorang pria yang saya rasa saya
kenal mendorong saya menubruk barang-barang yang dibawa Raisha, karena
dia berada didepan saya. Ternyata benar dia pria yang kami semua kenal,
saya terkejut. Maaf maaf nggak sengaja dia memunguti barang-barang yang
jatuh, dan membantu saya berdiri. ngapain di sini? Ngebuntutin aku ya?
dengan sedikit membentak Fitra berkata dengan Arman, Ge er banget sih,
lawong aku kesini mau nyari buku, Nyari buku kok lewat toko baju,
ketahuan ngibulnya, huuh Fitra menengadahkan dagu, Yaa, kan lewat aja
nggak papa, yeee Arman sedikit geragap menjawabnya sangat terlihat
berbohong. Saya berlalu pergi, tak berkata apapun hanya berlalu, bukan
marah melainkan hanya ingin melanjutkan lamunan yang tadi dengan segala
tanya yang sempat kabur akibat tumbukan rakus (rasanya) gara-gara Arman.
Sesaat mereka hanya memebelalakkankan mata melihat saya berlalu, mata
mereka bertanya Kenapa?, gestur tubuh saya tak dapat mereka baca. Raisha
memanggilku Ocha! Kamu marah? enggak lah ngapain marah jawab saya
singkat, Cha, maafin aku yaa? ku bener-bener nggak sengaja tadi, nggak
niat bikin kamu marah tampangnya hampir mirip dengan Wildan saat melihat
Raisha pingsan sekian hari yang lalu, hmm saya rasa itu hal biasa.
kenapa sih, aku biasa aja Man. Denger kalian ngoceh perutku juga
ikut-ikutan, mau cari makan aku tidak mungkin aku berkata sebenarnya Oh,
kirain, hehe senyuman lega darinya disambut ketus oleh Fitra huh, Ocha
tuh sebenere sebel banget cuma nggak tega aja ngomong langsung kalo kamu
bikin dia sebel, Dianya biasa aja kenapa situ yang sewot sih, Raisha
menengahi udah, kok masih dilanjutin. Ocha laper makan aja yuk! Aku
diajak kan? Arman yang aneh untuk hari ini, mungkin sedang ingin
pedekate lagi dengan Fitra, ya saya rasa begitu. Nggak usah! Ngapain
ngajakin cowo macam kamu, bikin repot, Terusin aja ampek pagi, aku
duluan aja, saya menggandeng Raisha dan membawanya pergi, Eh, eh
tungguin! mereka menyusul kemudian tapi cekcok berlanjut saat di
restoran, dijalan menuju parkiran. Sungguh menyebalkan. Untung saya
seorang yang pelit bicara kalau tidak saya sudah caci maki mereka.
Sebenarnya saya juga berfikir entah mengapa kesombongan keangkuhan nya
tak nampak saat tadi. Bukankah seharusnya dia orang yang angkuh galak
plus sombong.
___***___
Mentari muda lahir dari peraduannya awan mengembangkan senyumannya
menyambut hari yang cerah ini, semoga ini juga menjadi awal di mana saya
mencerahkan kehidupan saya (Amin). Buku yang saya bawa kali ini cukup
membuat keringat saya bercucuran menapaki beratus anak tangga, entah
mungkin ada angin mamiri di kampus, tiba-tiba Wldan mencoba bercengkrama
dengan saya dan tentunya membawakan buku-buku saya. Ini membuat jantung
saya berdegup kesetanan, saya berharap degupan jantung ini tak
terdengar sampai ke telinganya walau cicak polkadot di sudut tembok
tertawa geli mendengarnya. Banyak hal tapi tak satu pun ia ucapkan
tentang Raisha, aneh. Apa dia telah menangkap signal dari saya?! Ah
mungkin tidak!. Tapi ini membuat saya sungguh tidak nyaman. Entahlah,
apa karena dia milik Raisha, dan saya menghargainya, begitu?! Ya
sudahlah lah setidaknya dengan kedatangannya sedikit membantu saya
membawakan buku-buku yang kira-kira beratnya 7 kg yang membuat saya
telat masuk kelas. Untung ini sudah bukan SMA yang telat harus meminta
surat izin ke guru piket, hanya memberi salam dan kemudian duduk
mendengarkan tuntutan (lagi) yang harus diselesaikan minggu depan. Tak
lepas dari itu, saya masih memikirkan apa yang dilakukan Wildan tadi,
Untuk apa? Mengapa? Kok bisa? Banyak hal yang terbungkam ketidak
beranian saya yang tentunya tidak sempat saya tanyakan. Saya harap itu
timbal balik atas perasan saya padanya selama ini (amin). Saat setelah
membeli snack, saya berpapasan dengan Wildan dia tersenyum manis, sangat
manis. Kemudian aku mengaisnya memeluk lekat-lekat menyimpannya
dalam-dalam. Kemudian semuanya buyar karena saya lagi-lagi ditabrak oleh
sorang pria mantan kekasih teman saya, ya Arman. Aduh, maaf maaf
ketabrak lagi Cha, hehe, Dasar kodok mata empat, udah pake kacamata
masih aja suka nubruk, entah kenapa sesaat setelah berkata ketus seperti
itu saya merasa bersalah mungkin karena memang dia tak sengaja dan saya
mengatakan hal seketus itu padanya, oh Arman maafkan saya, itu yang
saya ingin sampaikan jika saya berani. jiah! Kan aku udah minta maaf,
kurang?! kurang, beliin permen chupa chups 1 haha, kayak anak kecil aja
doyannya permen so?! Kalo nggak suka jangan ngarep aku terima maaf dari
kamu, mencoba mengakrabkan diri dan sedikit guyonan karena rasa
bersalah tentang pernyataan saya tadi. haha, iya-iya nanti aku transfer
lewat bluetooth, oke?! terserah deh, aku ke kelas dulu saya berlalu
sedikit ketus memang, tapi ya sudahlah saya malas terlalu banyak bicara
padanya. Tiba di bangku, nampak buku yang saya butuhkan berjudul
Republik Jancukers di balut pita berwarna merah dengan simpul disudutnya
sungguh apik. Pikiran saya menerka-nerka siapa gerangan yang memberi
saya buku ini, Apa mungkin Wildan? Alibinya tadi saya sempat bercerita
bahwa saya sedang mencari buku itu. Tapi apakah secepat itu dia
mendapatkannya dan memberikannya untuk saya? Dan bagaimana dengan
Raisha? Sungguh ini membingungkan, kemungkinan besar memang dia. Oh hati
ini mengudara menikmati indah sanubari.
Saat pulang Raisha memanggilku dia mengajakku ke rumahnya untuk
merayakan nilai IP nya yang nyaris sempurna, 3.8 yaaa memang pantas dia
mendapatkannya, karena memang keahliannya dibidang eksak sungguh
menakjubkan. Kami bercakap-cakap dengan khidmat kemudian Wildan
menghampiri, membawa tiga botol minuman segar, dan memberikannya satu
padaku, satu pada Raisha dan satu botol yang sebagian isinya telah
diteguknya untuk dirinya sendiri. Tau aja kalo Aus bebarengan kami
mengatakan itu pada Wildan, Haha, yaiyalah kan aku pengertian sesaat
matanya tadi memandang saya pekat, entah memang benar atau itu yang saya
ingin lihat.
Malamnya ditempat Raisha nampak seoarang pria entah siapa duduk di
samping Fitra, tanpa bertanya (lagi) saya tahu itu pacar baru Fitra.
Hanya saya yang tidak berpasangan di tempat itu, oh sungguh ironis
mengapa saya tidak punya kekasih?!. Pesta Barbeqeu dimulai mereka asyik
bermain makanan dan panggangan, dan aku hanya memandangnya serta
sesekali meneguk minuman manis dalam kaleng, bukannya tak ingin membantu
tapi tak ingin mengganggu lebih tepatnya. Namun hati ini tak kunjung
berhenti bertanya mengapa? Bagaimana bisa? Apa? Semuanya tentang tingkah
laku Wildan. Raisha dan Wildan menghampiri, kok bengong? Udah laper?
Yaudah aku ambilin makanan ringan dulu di dalem bentar ya, belum jawab
eh dijawab sendiri, kebiasaan cekikikan Wildan membuatku bertanya lagi,
kenapa? lucu aja, haha mencoba memberanikan diri berucap terimakasih,
emm, eh makasih yang buat yang tadi siang tau aja aku lagi butuhin tu
barang, hehe oh, iya sama-sama hehe. Raisha kembali dengan membawa
toples berisi cemilan dan menyerahkannya pada saya. Nih biar nggak
bengong aja kerjaannya, haha hehe, iya makasih, Wildan mengangkat
tubuhnya hendak mengekor pada Raisha, namun ia berkata supaya Wildan
menemani saya. Kami banyak membicarakan hal-hal lucu, kemudian dia
melontarkan pertanyaan yang membuat saya tercekat dia bertanya apa
kesukaan saya, sedikit bingung saya menjawab permen chupa chups. Dia
tertawa mengatakan saya memang seperti anak kecil, saya juga ikut
tertawa bersamanya.
___***___
Di bangku ku lagi-lagi ada benda yang mengejutkan, ada permen chupa
chups diatasnya dengan kertas bertuliskan pesan dari pengirim.
Ditulisannya mengatakan Semoga kau suka dengan ini. Fikir saya langsung
tertuju pada Wildan, saya menghampirinya dan ingin berkata terimakasih.
Wil, kamu yang ngasih permennya ya? Makasih banget ya ,hehe Bukan, aku
lo nggak ngasih kamu apa-apa loh la terus siapa? mana aku tau dia
mengangkat bahunya. Suara berat dari kejauhan terdengar sampai
ditelinga, suara yang sangat saya kenal. Lagi-lagi Arman, ternyata dia
menyerukan bahwa dia yang memberikannya untukku, katanya sih sebagai
tanda permintaan maaf karena telah menabrak saya. Oh, jadi kamu yang
ngasih saya membuka bungkusnya dan langsung melahapnya dengan berlalu
meninggalkan dua anak adam itu, sempat saya menoleh kebelakang dan
berkata pada Arman Makasih yaaa. Saya kira Wildan, dan sangat berharap
itu memang Wildan, ternyata sikodok mata empat. Its okey setidaknya
manisnya permen ini mengingatkan saya dengan manis senyumannya yang
masih saya simpan.
___***___
Kelas telah usai dan saya segera ingin pulang, namun kerumunan BEM
menghalangi, Lagi-lagi demo, fuuh kira saya. Ada salah satu anggota BEM
menarik tangan saya membawa saya ke tengah kerumunan tumpukan daging
bernafas. Sungguh saya tercengang lagi lagi lagi dan lagi saya menemukan
sosok yang tidak asing, Arman dengan mawar merah ditangan kirinya dan
permen chupa chups ditangan kanannya dia berada ditengah kobaran api
hasil permbakaran beberapa barang mudah terbakar dibentuk hati. Saya
hanya melongo menyaksikan kegilaan yang dia lakukan, lalu dia berteriak
menyatakan perasaannya pada saya, dan meminta saya untuk jadi
kekasihnya. Saya tidak habis fikir kenapa dia bisa mempunyai perasaan
itu kepada saya. Saya hanya terdiam, diam seribu bahasa tak berucap
apa-apa sekedar tersenyum simpul kemudian berlalu menerobos barisan
kompi manusia di tepi. Memang dia adalah anggota BEM yang sangat
digandrungi mahasiswi dikampus, jadi tidak heran jika banyak yang
membantunya merencanakan hal gila ini. Mungkin ini sangat kejam hanya
meninggalkannya tanpa berkata suatu apapun namun entahlah saat itu saya
tak ingin berkata-apa-apa. Mungkin jikalau saya beranikan diri untuk
meminta maaf saya akan melakukannya sesaat setelah saya meninggalkannya
ditengah kerumunan tumpukan daging bernafas.
Berita bahwa Arman menyatakan perasaannya pada saya telah tersebar
menelusup sudut kampus, begitu pula telah terdengar oleh kedua sahabat
saya. Raisha dan Fitra menemui saya yang masih belum memikirkan kejadian
sebelum ini di bascame, Chiie yang abis ditembak, haha dengan bersama
mereka berkata seperti mengejek, atau apalah itu yang senada.oh! jawab
saya ketus, Diterima kan? Masak betah menjomblo terus, hehe Raisha
memulai, emm, nggak usah dibahas lah, Nggakpapa lagi Cha, jangan nggak
enak sama aku, hahaha dia kan udah bukan milik aku, aku ngrestuin kok
hehehe, ngomong apa sih kalian! Huh saya mulai kesal, Atau jangan-jangan
kamu punya pria idaman lain ya? Hayoo nggak crita-crita dalam hati,
hanya dalam hati saya menjawab ya memang benar saya mempunyai pria
idaman lain, yaitu Wildan! Kekasihmu!. Untungnya itu hanya dalam hati ya
hanya dalam hati. aku cuma belum siap untuk semua ini, pintunya
disebelah sana aku menunjuk pintu bescame yang terbuka. Mereka mengerti
dan berlalu. Aku, terlalu jahatkah aku? Maaf. Maaf? mungkin tidak cukup
dengan kata maaf untuk menebus banyak perkataan dan perlakuanku pada
mereka, orang-orang yang menyayangi saya, saya akan berusaha lebih dari
kata maaf.
Malamnya saya menelfon, dan mengatakan bahwa saya tidak memiliki rasa
lebih dari teman, mungkin jikalau memang jodoh tidak akan kemana.
Jalani saja layaknya air mengalir begitu saya menyikapinya. Karena hati
saya masih terpaut oleh Wildan, Wildan yang ternyata mendekati saya
bertanya apa kesukaan saya kerana ingin membantu Arman mendapatkan saya.
Kecewa, itu yang saat ini saya rasa menyesal yang membelenggu batin
saya. Kecewa karena terlalu membumbung tinggi dan akhirnya terjatuh dan
hancur, menyesal telah membuat Arman kecewa. Tapi apa daya, jika memang
ini adanya. Namun entah mengapa setelah kejadian itu berlalu Arman
terlihat lebih bersemangat menjalani hari dan juga bersemangat
mengganggu saya dengan perhatiannya bahkan dia berkata akan menanti
saya. Sampai hari wisuda tiba kemudian dia berlalu entah kemana. Ya
sudahlah saya tak ingin ambil pusing toh pada awalnya saya memang tak
menyukainya.
___***___
Karir yang saat ini saya geluti tanpa campur tangan percintaan
didalamnya dan melupakan kisah percintaan dimasa perkuliahan membuat
saya sukses menjadi salah satu novelist terbaik di Indonesia, yang
sering diundang di kampus-kampus untuk menjadi tamu atau sekedar untuk
mengulas novel-novel yang saya buat, dan teman-temanku juga sukses
dibidang masing-masing. Dibulan ini saja saya telah diundang oleh 5
universitas terbaik yang ada. Senjakala sudah menyambut saya begitu pula
para mahasiswa di salah satu kampus di Yogyakarta, diundangnya saya
menjadi tamu saat bulan sastra merupakan kehormatan terbesar bagi saya.
Acara dimulai, ini lebih menakjubkan dari acara bulan bahasa saat saya
dulu di tempat kuliah. Dipertengahan acara saya melangkahkan kaki menuju
toilet, di perjalanan menuju toilet saya merasa ada yang mengikuti
namun saya mengacuhkannya, mungkin hanya orang yang sejalan dengan saya.
Setelah selesai saya beranjak meninggalkan toilet, di jalan saya tidak
sengaja bersenggolan dengan pria bertopi merah, membawa beberapa buku
dengan laku gusar. Buukk!! Bukunya terjatuh saat menyenggol, mungkin
terjatuh atau memang dijatuhkan. Dia meminta maaf dan lalu pergi. Saya
mengambilnya dan berkata bahwa bukunya terjatuh, dia tak mendengar atau
memang sengaja tak mendengarkan. Sampulnya bertuliskan Look at This,
entah mengapa jari jemari tergerak untuk membuka, saya mulai membuka
satu persatu lembaran usang tergores tinta merah. Saya membacanya duduk
dikursi hijau menyejukkan di lobi.
Oh! Ini cerita tentang diri saya terdahulu, berbagai potret saya
memenuhi lembaran ini. Bahkan potret ketika saya merajut asa, kehidupan
saya dimasyarakat, siapa dia ini?yang mengejutkan dengan buku nampak
banyak potret iri saya. Sekejap saya mengingat salah satu foto yang saya
duga hanya salah seorang kawan saya yang memotretnya. Menuliskan
ke-akuaan dirinya yang terdiam berpatung menunggu saya, dan bahkan
sampai sekarang saya tak sadar dia menunggu saya. Seorang yang saya
kenal menuliskannya untuk saya, di akhir cerita ada 1 lembaran kosong
untuk apa? Kenapa?. Kemudian pria tadi menghampiri kemudian duduk
disebelah saya, melepas topinya melihat saya dan seakan menjawab semua
pertanyaan yang ada dalam sanubari. Dia berkata Ini lembar jawab untuk
penantianku selama aku masih bernyawa, mengais sisa sisa senyuman
terakhirmu yang dahulu dan menyimpannya rapat-rapat mengasa jika memang
bisa. Aku sekedar menyayangimu sekedarnya, ya hanya sekedar menyayangimu
itu yang aku patrikan sejak mendapati senyumanmu indah, mungkin itu
hanya sekedar untukmu. Sekarang dirimu telah tahu segalanya, aku
serahkan lembar jawaban ini kepadamu tentukan alurnya. Aku siap
menerima, jikalau penantianku tak jua berujung. Aku pun tak apa jika
dahaga ini tak segera kau basuh. Dan jikalau memang terjadi izinkan ku
peluk erat senyumanmu yang terakhir ini untuk kubawa bekal menyejukkan
nurani, tak terasa suara berat mengharukan itu membuat garis basah di
kedua pipi, saya tak mengerti. Saya hanya memeluknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar